Pada kehidupan sehari-hari, berbicara
adalah slalah satu cara yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama.
Berbicara bisa mencakup banyak hal seperti beramah tamah, berdiskusi dan bahkan
berdebat akan suatu hal. Teringat akan salah satu peribahasa yang mengatakan
bahwa ujung lidah lebih tajam bila dibandingkan dengan ujung pedang. Seseorang
bisa dengan tanpa sengaja atau malahan bisa juga disengaja untuk mengucapkan kata-kata
yang bisa melukai orang lain. Bila kita berkaca pada apa yang terjadi sekarang
ini, banyak kasus pembunuhan yang berawal dari rasa tersinggung. Sehingga,
marilah kita menjaga lisan kita agar senantiasa mengucapkan kata-kata yang baik
atau tetap menjaganya diam. Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan :
Menjalin Ukhuwah Demi Kemaslahatan Ummat
Tampilkan postingan dengan label Buletin Jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Jumat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 Desember 2014
Kamis, 13 November 2014
Qailulah dan Bangun Sebelum Fajar
“Dan diantara
tanda-tanda (kebesaran) Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan
usahamu mencari sebahagian dari karunia Nya. Sungguh, pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar "[Qs. Ar-rum:
23]
Qailulah
Dalam ayat diatas terdapat dua waktu untuk tidur yang
disebutkan, yaitu malam dan siang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya
tidur siang hari juga tidak kalah pentingnya dengan tidur pada malam hari. Ada
apa sebenarnya dengan tidur siang hari?
Tidur
sejenak di waktu Siang (Qailulah) adalah satu hal yang dilakukan dan dianjaurkan
Rasulullah untuk umatnya. Qailulah merupakan bentuk istirahat bagi tubuh yang
sangat bermanfaat. Selain menjamin kecukupan istirahat bagi tubuh, tidur
sejenak di waktu siang juga dapat membuat tidur lebih nyenyak di waktu malam.
Tidur siang
bisa langsung meningkatkan kewaspadaan selepas jam tidur, atau beberapa saat
kemudian di hari lain. Tidur siang selama 20-40 menit dapat membantu
meningkatkan mood, kewaspadaan dan performansi. Hal ini dibuktikan oleh para
peneliti NASA yang menyarankan pilot pesawat militer dan astronotnya tidur
siang selama 40 menit. Hasilnya performa awak meningkat jadi 34 persen,
sementara kewaspadaan menjadi 100 persen. Tidur siang juga memiliki efek
positif pada psikologi, yaitu memberi rasa relaks untuk menyegarkan pikiran. Pada
buku “Sleeps and Alertness : Chronological, Behavioral and medical Aspect of
Napping ” karangan David F Dinges and Roger J Broughton menyatakan bahwa jika
seseorang secara rutin tidur 30 menit pada waktu siang hari maka mempunyai
resiko mengidap sakit jantung 30% lebih rendah daripada mereka yang tidak melakukannya.
Dengan melaksanakan Qailulah, akan memudahkan kita untuk
bangun malam, ber-qiamulail, dan bangun sebelum fajar pada keesokan harinya.
Namun jika karena aktifitas kita yang padat maka tidak sempat melakukan
Qailulah, maka dengan beristirahat saja sudah cukup menurut pendapat beberapa
ulama.
Kebiasaan Tidur Rasulullah SAW
Lalu bagaimana dengan kebiasaan tidur Rasulullah? Rasulullah
terbiasa tidur miring ke kanan dengan kedua betis sedikit dilipat, tangan
kanannya berada di bawah pipi, serta wajahnya menghadap Ka’bah. Posisi tidur
seperti ini seuai dengan posisi janin. Posisi tidur seperti inilah yang biasa
dipraktikkan oleh seseorang yang berada dalam kondisi jiwa yang stabil. Anatomi
paru- paru kiri yang lebih kecil membuat jantung lebih sedikit menahan beban
ketika tidur miring ke kanan. Berbagia percobaan yang telah dilakukan olehh
Galteh dan Butseh menunjukkan bawhwa berpindahnya makanan dari lambung ke usus
dapat dilakukan dakam waktu 2,5—4,5 jam jika seseorang tidur dengan posisi
miring ke kanan. Jangka waktu ini tidak dapat dicapai oleh seseorang yang tidur
dengan posisi miring ke kiri karena waktu yang dibutuhkan adalah 5—7 jam.
Terdapat
sebuah hadist sahis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia mengatakan bahwa
pada suatu ketika Rasulullah SAW melihat seseorang tidur dengan posisi telungkup.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya,
ini adalah tidur yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya”.
Saat
Seseorang tidur telungkup, seperti yang dikatakan oleh dr. Zhafir al-Athar, ia
akan merasakan sesak napas selama beberapa saat sebab besarnya beban punggung
menghalangi otot dada untuk berkontraks-relaksasi saat mengisap dan
mengeluarkan napas. Posisi ini juga mengakibatkan tulang tengkuk dan tulang
leher tertekuk. Seorang peneliti dari Australia mengemukakan bahwa intensitas
kematian mendadak pada anak mencapai tiga kali lipat lebih banyak saat mereka
tidur telungkup dibandingkan tidur dengan posisi miring ke salah satu sisi.
Majalah Times juga memuat hasil
penelitian yang sama, intesitas kematian mendadak yang dialami oleh anak-anak
yang tidur telungkup pun semakin meningkat.
Bangun
Sebelum Fajar
Allah SWT
berfirman, “…dan (laksanakan pula solat) subuh. Sungguh, solat subuh itu
disaksikan (oleh malaikat)” QS al-Isra’:78.
Al Quran
menganjurkan pada setiap muslim untuk tidur lebih awal dan bangun sejak fajar.
Di dalam sebuah hadist sahih Rasulullah SAW bersabda, “Umatku ini diberkati ketika
bangun pagi-pagi”. (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausat). Di dalam riwayat
lain beliau bersabda, “Dua rakaat subuh lebih baik daripada dunia
dan seisinya” (HR. Muslim). Manfaat yang diperoleh seeorang jika
membiasakan diri bangun pagi adalah saat pagi kadar gas ozon dalam udara pagi
mencapai titik yang paling tinggi. Kadar ini berkurang secara berangsur-angsur
hingga hilang sama sekali begitu matahari terbit. Gas ini dapat lebih
mengaktifkan kerja otak dan otot tubuh. Karena itu, seseorang akan mencapai
puncak keaktifan pikiran di waktu pagi. Saat menghirup udara pagi, seseorang
akan merasakan kenikmatan dan kegembiraan yang tidak bisa dibandingkan dengan
waktu siang maupun malam.
Dalam
memotivasi kaum muslimin untuk bangun sebelum fajar dan mengerjakan
qiyamullail, Allah SWT berfirman,
“Sungguh,
bangun malam itu lebh kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih
berkesan.” (QS Al-Muzammil : 6)
Begitulah salah
satu cara Allah mencintai kita. Dia memberikan petunjuk sesuai fitrah manusia. Oleh
karena itu, dengan melaksanakan segala perintah Allah dan meneladani gaya hidup
Rasulullah, insya Allah, seorang muslim mampu menjadi manusia yang unggul dan bermanfaat
bagi sesamanya.
Wallahua’lam
bishawab
Senin, 03 November 2014
Menjadi Generasi Muda yang Bermakna
Sebagai seorang muslim utamanya muslim
generasi muda, kalimat bercita-cita dan berkarya menjadi begitu bermakna. Setiap
orangpun pasti juga mempunyai cita-cita untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka,
kemudian tekad yang kuat untuk berkarya membangun negeri menjadi lebih baik,
dewasa ini generasi muda menjadi sosok yang begitu disoroti terkait peranannya
dalam memajukan suatu bangsa dan negara. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits
Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu,
"Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya". (HR. At-Tirmizi).
Kemudian hadist kedua Dari Ibnu
‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu."
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu."
Berdasarkan dua buah hadist di atas, masa muda menjadi
masa yang begitu penting dan tidak diragukan lagi
bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan
manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika
mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka
merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi
nakhoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan
akhirat.
Hal
ini dikarenakan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah memberikan kepada mereka
kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal
tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua umurnya walaupun para
orang tua ini melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, hanya saja
faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat mereka tidak mampu untuk
mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.
Pada
zaman Rasullullah SAW para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum-
memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik
dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa
Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah
bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah
mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam
ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat
sebagai warisan dari Nabi mereka.
Di
sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan
selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad
di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang
tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat
mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini
dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.
Para
pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan
shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri mereka, mengetahui hak dan
kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka
yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka kabar gembira dari Nabi mereka
-Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih,
“Ada tujuh golongan yang akan
dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu
beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang
pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”
Beranilah bercita-cita setinggi mungkin kemudian bulatkan tekad untuk mewujudkannya. Bercita-citalah untuk kemaslahatan umat dan menjadi pemuda muslim yang kreatif dan inovatif. :)
Minggu, 23 September 2012
Islam Itu Indah
Mengapa kita memilih Islam sebagai agama ? Pertanyaan itu mungkin selama ini jarang atau bahkan belum pernah terbesit sama sekali dalam benak kita setelah sekian lama kita atau bahkan malah bingung harus menjawab apa saat pertanyaan itu muncul dihadapan kita.
Dan ketika pertanyaan itu benar-benar diberikan kepada kita, lalu jawaban apa yang akan kita berikan. Apakah kita akan menjawab "karena orang tua kita beragama Islam" atau dengan polosnya menjawab "takdir".Jika benar demikian, lalu apa bedanya kita dengan kaum kafir yang menolak masuk Islam karena mereka mengatakan bahwa mereka mengikuti agama nenek moyang mereka ?
Dan ketika pertanyaan itu benar-benar diberikan kepada kita, lalu jawaban apa yang akan kita berikan. Apakah kita akan menjawab "karena orang tua kita beragama Islam" atau dengan polosnya menjawab "takdir".Jika benar demikian, lalu apa bedanya kita dengan kaum kafir yang menolak masuk Islam karena mereka mengatakan bahwa mereka mengikuti agama nenek moyang mereka ?
Langganan:
Postingan (Atom)


