Kamis, 06 Mei 2010

Eh, Primbon Itu Warisan Jahiliyah, Lho!

Buletin Gaul Islam
07 Oktober 2008 - 08:31
gaulislam edisi 050/tahun I (6 Syawal 1429 H/6 Oktober 2008)

Kamu yang doyan melototin layar kaca, kayaknya pernah deh nemuin iklan kayak gini: “Kamu kan lahirnya Selasa Kliwon. Tak cocok kerja di air. Harusnya berdagang.” Terus nyaranin penonton untuk kirim SMS ke nomor tertentu.

Bro, memang lucu juga ya? Menentukan nasib lewat primbon. Sangat boleh jadi orang yang dalam adegan di iklan sebagai pekerja yang hubungannya dengan air itu justru sukses di tempat yang menurut primbon tidak cocok dengan tanggal lahirnya. Bisa aja pernyataannya jadi begini: “Kamu ini lahirnya Selasa Kliwon. Nggak cocok kerja yang berhubungan dengan air, kecuali jadi direktur PDAM…” Hehehe…

Ngomongin soal primbon memang lucu abis sekaligus nggak abis pikir. Waktu saya SD juga ada tuh buku tentang primbon, tafsir mimpi di rumah orang tua saya. Tapi sejak kecil saya selalu nggak percaya karena banyak yang bertolak-belakang dengan kenyataan dan suka mengada-ngada. Ngarang, gitu lho.

Misalnya, ada orang yang diramal nasibnya berdasarkan tanggal kelahiran. Ada juga yang diramal rejekinya dengan indikator banyaknya bersin di jam tertentu, ada juga ukuran untuk menentukan jodoh dari tahi lalat dan seabreg tanda lainnya yang aneh-aneh banget yang dihubungkan dengan kepribadian atau nasib seseorang.

Jangan percaya primbon
Untuk memenuhi rasa penasaran manusia dalam hal yang supranatural dan serba ganjil, sering juga diciptakan mitos yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari yang dialami dan ada di sekitar manusia itu sendiri. Lalu dihubung-hubungkan dengan kehidupan yang telah, sedang, atau akan dijalani oleh manusia itu sendiri. Intinya, segala sesuatu yang aneh atau dianggap aneh akan dihubungkan dengan nasib manusia di masa depan.

Meski sering tak masuk akal, banyak di antara kita yang tetep aja percaya atau mungkin ada yang setengah percaya terhadap ramalan tersebut. Maka, jangan heran jika para dukun, tukang ramal, tukang tenung tumbuh subur sesuai kaidah supply and demand. Jika permintaan tinggi maka penawaran juga tinggi, gitu lho. Kalo animo masyarakat kita yang percaya pada ramalan tinggi, maka tukang ramal dan dukun juga banyak. Malah ada yang mungkin saja pura-pura jadi dukun atau tukang ramal.

Itu sebabnya, di masyarakat kita berkembang juga mitos tentang ramalan nasib yang dihubungkan dengan kejadian di sekitarnya atau ada yang memvonis nasib seseorang dari tanda-tanda di tubuh, berdasarkan mimpi, bentuk wajah, garis tangan dan lain sebagainya. Maka, untuk menguatkan argumentasi asal-asalannya dibuat dalam bentuk buku. Sekadar tahu aja, di masyarakat Jawa misalnya, ada kitab yang sangat boleh jadi lebih sering dibaca ketimbang al-Quran, yakni kitab Primbon.

Misalnya aja nih, karakter orang bisa dilihat dari bibir (www.primbon.com pada pembahasan tentang tanda di tubuh). Bila bentuk bibirnya agak lebar, memiliki kepribadian pandai mengatur uang, sabar, dan agak berani. Bila bentuk bibirnya agak kecil, memiliki kepribadian suka berterus terang, berhati kecil dan sering menganggap dirinya tidak bahagia. Bila bentuk bibirnya agak besar dan terbuka (menganga), memiliki kepribadian suka mementingkan diri sendiri namun rela berkorban untuk orang yang disukai. Bila bentuk bibirnya agak tipis, memiliki kepribadian cepat terpengaruh, tidak mempunyai prinsip. Bila bentuk bibirnya agak dower, memiliki kepribadian selalu mementingkan diri sendiri, tidak mau mengalah. Bila bentuk bibirnya agak kecil dan agak sempit, memiliki kepribadian selalu bimbang dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.

Apakah benar semua itu? Jawabannya bohong. Kalo pun kemudian ada yang mirip-mirip dengan apa yang ditulis dalam primbon tersebut, itu hanya faktor kebetulan. Karena apa? Sangat boleh jadi orang yang digambarkan dengan memiliki bibir dower justru kepribadiannya malah tidak mementingkan diri sendiri dan mau mengalah (bertolak belakang dengan penetapan yang asal-asalan itu). Iya kan?

Wadooohh.. lagian kalo kepribadian udah di-default kayak gitu di kitab primbon, jadinya nggak bisa ngerubah karakter dong ya? Buat apa ada sekolah kepribadian atau bermunculan trainer motivasi dan juga para ustad untuk memberikan pencerahan dalam kehidupan kalo dari bentuk fisik aja udah ‘divonis’ begini dan begitu dalam menentukan karakter seseorang. Iya nggak sih? Aneh-aneh aja deh ah.

BTW, ada yang lebih konyol tapi lucu di primbon juga dibahas nasib seseorang melalui bersin. Sekadar contoh aja ya. Bersin antara jam 01-02 pagi hari bermakna akan ada kabar yang kurang mengenakkan jiwa dan hati anda yang datangnya dari luar daerah. Bersin antara jam 02-03 pagi hari bermakna akan ada undangan yang datang kepada anda untuk dapat menghadiri suatu perayaan. Bersin antara jam 03-04 pagi hari bermakna akan ada teguran dari pimpinan untuk anda. Bersin antara jam 04-05 pagi hari bermakna akan ada penyambutan dari anda untuk tamu yang datang dari jauh. Bersin antara jam 05-06 pagi hari bermakna akan ada rasa yang sangat menggambarkan kenikmatan dan kebahagiaan kepada anda.

Hmm.. ini satu contoh prediksi tentang nasib yang asal-asalan bin ngawur. Gimana kalo kita sedang flu? Bila seharian kita sering bersin, berarti gimana dong nentuin nasib kitanya? Kayaknya yang bikin primbon juga bingung sendiri deh tuh.

Jangankan bersin, soal mimpi aja dibahas kok dalam primbon atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat saat ini. Misalnya aja kalo kita mimpi menjadi orang kaya, ternyata tafsirnya adalah kebalikannya, yakni kita akan tidak berhasil dalam jangka waktu yang lama. Duilee.. kejam amat ya? Gimana jadinya kalo kita sering mimpi jadi kaya? Berarti selama hidup kita nggak berhasil terus dong? Asal deh!

Ada yang cukup menggelikan yang ditulis dalam website primbon, kalo kita mimpi sedang berolahraga bermakna akan ada kemajuan dalam soal perjuangan (usaha yang anda harapkan akan tergapai). Hehehe.. perlu juga kita bertanya kepada orang-orang yang berhasil dalam hidupnya, pernah nggak tuh mimpi berolahraga? Tapi yang jelas dan pasti, Frank Lampard Cs di klub sepakbola Chelsea terus mengolah tubuhnya dan tekniknya bermain bola bukan di alam mimpi, tapi di dunia nyata supaya bisa berhasil menjadi klub yang kini cukup disegani di Liga Inggris itu. Iya kan?

Bukan warisan Islam
Benar banget. Kitab primbon itu bukan warisan dari ajaran Islam. Bahkan sebaliknya, itu adalah warisan budaya jaman jahiliyah alias jaman kebodohan dan kegelapan.

Bro, kalo kita percaya dengan semua yang diajarkan dalam primbon, ati-ati karena itu bisa menjerumuskan diri kita kepada hal syirik (menyekutukan Allah Swt. alias menduakan). Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirik itu adalah dosa besar sebagaimana firmanNya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Luqman [31]: 13)

Jadi, syirik adalah kezaliman yang paling zalim dan tauhid adalah keadilan yang paling adil. Hal-hal yang bertentangan dengan tauhid adalah dosa paling besar. Dan apa yang paling sesuai dengan prinsip tauhid adalah kewajiban yang paling wajib dan ketaatan yang paling diutamakan. Kesyirikan adalah hal yang paling bertentangan dengan tauhid, maka kesyirikan mutlak merupakan dosa yang paling besar (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Penawar Hati Yang Sakit, hlm. 153)

Bro and Sis, kalo sikap kita kepada ramalan primbon seperti itu juga, berarti kita pun nggak ada bedanya dengan orang-orang yang telah lebih dulu percaya sama dukun alias tukang ramal. Pokoknya nggak usah melibatkan dirimu dalam kancah ramal-meramal; kamu nggak boleh percaya bualan mereka yang membuat ramalan di primbon atau malah mendatangi dukun secara langsung. Hih, amit-amit deh.

Terus terang, bahwa manusia—siapa pun ia—nggak tahu dan nggak bakal dikasih tahu sama Allah tentang masa depan kehidupan dunianya; rizki, bahagia, sengsara, jodoh, usaha, dan juga kematian. Nggak ada yang tahu kecuali Allah. Kenapa? Karena masalah ini termasuk ke dalam ‘wilayah’ ghaib. Firman Allah Swt.:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS al-An’am [6]: 59)

Dalam ayat lain diterangkan bahwa Allah tidak akan memberi semacam ‘bocoran’ kepada manusia tentang masa depan kehidupannya, kecuali hanya kepada Rasul yang diridhoiNya. Firman Allah Swt.:

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya." (QS al-Jin [72]: 26-27)

Imam al-Qurthubi menyebutkan—ketika menafsirkan ayat tersebut—bahwa ramalan bintang (termasuk dalam hal ini ramalan di primbon, red.) tak ada faedahnya sama sekali, dan tidak menunjukkan celaka atau bahagia (seseorang). Ramalan tersebut tiada lain adalah penentangan terhadap al-Quran yang agung. Sikap penentangan terhadap al-Quran ini berarti telah menghalalkan darah orang yang melakukan ramalan perbintangan itu.

Tanggung jawab bersama
Betul. Kita berharap banyak ada orang atau pihak yang bisa membela dan menyuarakan Islam dengan benar. Aksinya amat diperlukan dalam kondisi saat ini, lho. Bener. Di tengah gelombang arus informasi yang kian cepat ini, bukan mustahil kalo kita bakalan kebawa arusnya yang deras. Sementara, kita kudu mengakui, nggak semuanya informasi itu membawa berkah. Sebaliknya, justru malah membawa malapetaka. Contohnya soal ramalan zodiak, primbon dan sihir. Bagaimana pun, ide rusak yang dikemas dalam bentuk yang sangat menghibur, bahkan interaktif karena muncul di media massa canggih seperti televisi dan internet, maka bila tak ada langkah pencegahan, jangan salahkan mereka aja bila akhirnya kaum Muslimin jadi berantakan pemikirannya. Sebab, ada yang salah juga dari kita. Yakni, diem aja atau bahkan larut dalam gaya hidup yang diajarkan mereka (musuh-musuh Islam).

Kita, remaja Islam sebenarnya sangat berharap akan ada media Islam yang mampu bersaing dengan media-media lain. Apakah majalah atau tabloid, juga novel, pokoknya bisa tampil memikat, gaul, ngertiin gaya remaja dan tentu saja menampilkan wajah Islam yang ramah. Jangan malah media yang ada menjadi alat propaganda tahayul, tathayyur, sihir, primbon, ramalan bintang dan sejenisnya. Menyedihkan banget.

Lagipula, untuk urusan dakwah bukankah keikhlasan dan keseriusan menjadi prioritas. Sekarang pilih mana; membiarkan terus remaja dan anak-anak kita tenggelam dalam bacaan dan tontonan yang ‘menyesatkan’ atau memberikan bacaan dan tayangan alternatif yang ‘mencerahkan’? Kita pasti tahu jawabannya. Itu sebabnya, ini tugas bersama untuk mengatasi problem ini. Terutama pemerintah yang harus segera memberlakukan aturan dan sanksi bagi para penyebar propaganda kekufuran dan penyebar kesyirikan di tengah-tengah masyarakat.

Namun, kita juga masih sangsi alias ragu kalo pemerintah mau memberlakukan aturan dan sanksi yang tegas. Maklum, pemerintah masih bermesraan dengan kapitalisme-sekularisme yang memang telah memberikan jalan bagi para pemuja kebebasan. Itu sebabnya, hanya dengan Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara, berbagai problem kehidupan umat ini bisa diselesaikan. Lagian, di Indonesia kan mayoritas penduduknya Muslim, sekitar 80-an persen. Wajar dong kalo diterapkan syariat Islam. Betul nggak?

Nah, bila kita berkaca kepada ajaran Islam, rasanya kita akan berpikir beribu kali sebelum melibatkan emosi kita dalam dunia klenik (perdukunan alias sihir) juga ramal-meramal semacam primbon dan zoidak tersebut. Kehidupan yang serba tak menentu bagi sebagian masyarakat kita, tidak lantas kemudian jatuh ke dalam pelukan para pembual alias para tukang sihir dan peramal yang mencoba menggoda dengan menawarkan jasanya. Yakinlah, bahwa Allah akan menjamin kehidupan setiap hambaNya selama hamba tersebut percaya bahwa hanya Allah Ta'ala lah yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Kita tak perlu mencoba meramal nasib, atau dengan alasan menjaga diri kemudian kita terjebak dalam dunia klenik tersebut.
Kehidupan sekarang boleh berubah, meski dengan perubahan yang menyebabkan sebagian dari kita bangkrut dalam kehidupan ini. Namun tak berarti bahwa kemudian merasa sah-sah saja ketika harus melibatkan diri dalam dunia klenik alias perdukunan, atau percaya kitab primbon, ramalan bintang, dan mendatangi para tukang ramal nasib. Jangan sampe deh.

Nah, daripada kita terbuai oleh ramalan bintang dan ramalan sejenisnya yang emang cuma bualan dan bikin akidah Islam kita cacat, mendingan energi kita disalurkan buat belajar tentang Islam. Islam sebagai akidah dan syariat. Itu berarti, selain kita telah melaksanakan salah satu kewajiban--yakni mencari ilmu--kita juga bisa lebih pandai dari orang yang nggak belajar. Walhasil, kita bakal tahu, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang untuk dilakukan.

Kita berharap juga kepada pemerintah supaya serius untuk menghentikan program pengrusakan akidah secara massal lewat media massa ini. Dan secara teknis kini kita kudu mulai ninggalin kebiasaan percaya sama ramalan zodiak, primbon, perdukunan dan sejenisnya itu. Bisa dosa lho. Eh, yang pasti emang itu nggak ada gunanya, kok. Oke? [solihin: osolihin@gaulislam.com]

Kuatkan Imanmu, Bro!

Buletin Gaul Islam
17 November 2009 - 01:42
gaulislam edisi 106/tahun ke-3 (14 Dzulqaidah 1430 H/2 Nopember 2009)

Gue bingung nih, kok di Indonesia kini banyak sekali muncul aliran-aliran sesat dan tumbuh subur pula. Padahal mayoritas penduduknya kan orang Islam. Gue catet nih ya, ada Ahmadiyah, hadir juga Kerajaan Tuhan yang dikembangan Lia Eden, pernah ada Ahmad Mushadeq dan Amaq Bakri yang tiba-tiba ngaku sebagai nabi, ada juga pengajian Ilmu Kalam Santriloka yang bilang nggak perlu shalat dan nggak perlu puasa Ramadhan, plus menyalahkan sebagian isi al-Quran, dan aliran sesat lainnya. Celakannya, mereka juga mengaku bagian dari Islam. Padahal ajaran mereka nggak sesuai dengan ajaran Islam. Wah, gimana nih? Udah pada error kali ye.

Jadi kali ini gue akan membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan akidah. Meskipun mungkin bakal kurang nih space yang disediakan buletin kesayangan kamu semua yang makin cool aja untuk membahas tema ini. But, sedikit demi sedikit pasti ada gunanya buat kamu semua. Iya nggak sih?

Akidah Islam
Akidah Islam ialah beriman kepada Allah Swt., Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasuNya, hari kiamat, qadha dan qadar. Oya, yang namanya beriman tuh nggak boleh asal-asalan. Tapi harus berdasarkan dalil yang pasti. Jadi alasan untuk beriman itu nggak bisa sembarangan. Misalnya, elo beriman gara-gara ikut-ikutan seseorang yang bergelar profesor doktor dan serentetan gelar lainnya yang sepanjang gerbong kereta api jabodetabek. Nggak lah. Iman wajib diyakini bener-bener alias elo harus paham kenapa alasannya elo beriman Sebab, iman itu ialah sebuah pembenaran yang pasti, berdasarkan fakta-fakta yang ada, bukan karena taklid buta pada seseorang.

Nah, dalam Islam kita mengenal dua dalil yaitu dalil aqli (akal/yang dapat diindera) dan dalil naqli (sesuatu yang dijelaskan oleh al-Quran dan as-Sunnah). Dalam sarana meraih keimanan, akal mempunyai peranan yang sangat penting. Misalnya dalam memikirkan adanya Dzat Allah sebagai Tuhan semesta alam. Di dalam al-Quran dijelaskan tentang kisah Ibrahim (as) dalam mencari Tuhan. Allah Swt berfirman (yang artinya): “Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) Agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musryik” (QS al-An’am [6]: 76-79)

Bro en Sis, pencarian keimanan tak lepas dari akal. Sebab akal adalah karunia terbesar bagi manusia dan karena dengan akal juga Allah memerintahkan malaikat bersujud pada Adam. Banyak penekanan yang diberikan al-Quran agar manusia menggunakan akalnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (QS al-Baqarah [2]: 269)

So, dalam Islam fungsi akal amatlah dibutuhkan. Akal tidaklah merongrong iman. Malah akal akan memperkuat dalam pencarian akan iman. Buktinya orang semakin memahami al-Quran semakin kuat pula keimanannya. Banyak bangsa di negara maju tertarik dengan Islam ketika membaca kandungan al-Quran atau malah menjadi muslim karena mencoba mengkritisi al-Quran. Firman Allah Swt. (yang artinya):”Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS ar-Ra’d [13]: 19)

Juga dalam firmanNya (yang artinya): “(al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganNya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS Ibrahim [14]: 52)

Wuih Bro, kayaknya masih banyak ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya untuk beriman kepada Allah Ta’ala. Tapi gue nggak bisa nulisin semua nanti bisa-bisa kepanjangan deh nulisnya. Wacks!

Sobat muda muslim, dalam Islam keimanan haruslah utuh nggak boleh setengah-setengah. Nggak ada tawar-menawar pula. Cuma ada dua pilihan, yaitu iman dan kafir. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)’, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya. dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 150-151)

So, dalam akidah Islam nggak boleh tuh dikurang-kurangi. Nggak boleh kita cuma iman kepada Allah dan ingkar kepada rasul atau iman kepada Allah Swt. dan rasul tapi mengingkari al-Quran dan syariat yang tertera di dalamnya. Hey, nggak banget deh!

Hmm.. kalo iman elo itu memang bener-bener mantep, elo nggak perlu khawatir lagi deh. Sebab elo udah yakin bahwa sesuatu yang udah ditentukan oleh Allah Ta’ala adalah yang terbaik walaupun elo diancam orang supaya ninggalin keimanan elo. Mushab bin umair pun pernah diancam oleh Usaid bin Khudair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka bani Abdil Asyhal. Tapi tetap teguh dengan Islam, tuh. Oya, kalo iman elo udah kuat, elo juga nggak akan dengan gampang ninggalin iman yang elo miliki ketika mengalami siksaan. Bilal bin Rabbah pun pernah ngalami siksaan dari kaum Quraisy dengan cara tubuhnya ditindih batu di terik matahari padang pasir. So, tetap istiqamah dan sabar di jalan Allah ya. Semangat!

Yang merongrong iman
Elo lihat sendiri deh, banyak tuh orang yang gaya hidupnya cenderung kebarat-baratan dan nggak selektif. Misalnya gue sering ngeliat anak-anak muda genjrang-genjreng di atas panggung sambil bawain lagu Underoath. Atau asik moshing ketika ngedengerin lagu-lagunya As I Lay Dying danDemon Hunter yang merupakan gerombolan band Christian Metal yang berasal dari kulon (baca: Barat). So, karena lagi tren tuh lagu ya udah deh mereka happy-happy aja tanpa tahu makna dari lirik-lirik lagunya. Entah karena suara vokalnya yang kurang jelas atau mereka nggak ngerti bahasa Inggris, sehingga mereka nggak merasa risih dengan lagu-lagu kayak gitu.

Lagu-lagu itu sebenarnya kalo diperhatiin lagi ampir mirip sama ceramah pastur di gereja. Kalo gue sih sori-sori aja ngikut-ngikut kayak gitu walaupun gue masih suka maen skateboard (lho, apa hubungannya? Hehe…). Sebab, gue rasa nggak ada yang salah dengan alat olahraga tersebut karena hukum asalnya benda itu kan mubah, kecuali ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Oya, kejadian ini nggak cuma terjadi di kalangan anak muda. “Anak tua” pun sama kayak gitu juga deh. Gue geleng-geleng kepala sambil gantian bergumam: “Dasar anak tua jaman sekarang ada-ada aja!” Misalnya nih, ada shalawat yang dibawain Kiai Kanjeng--yakni kelompok musik yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib--dengan menggunakan lagu Stile Nacht (malam kudus) yang diiringi instrument ala Franz Xaver Gruber dioplos sama Shalawat Badar terus dinamain Shalawat Universal. Memang, shalawat ada tuntunannya di al-Quran. Allah Swt. berfirman (yang artinya):“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(QS al-Ahzab [33]: 56)

Nah, yang jadi masalah adalah kalo dicampur kayak Shalawat Universal, itu nggak boleh. Coz, lagu malam kudus udah khusus produk budaya dari kaum agama lain. Apalagi sampe featuringsama biarawati. Gaswat bener jadinya kan?

Bro, dalam hal beribadah kita kan nggak boleh ikut-ikutan agama lain. Kalo kita baca asbabuun nuzuul alias penyebab turunnya ayat al-Quran—dalam hal ini adalah surat al-Kafirun—ternyata turunnya adalah ketika orang-orang Quraisy meminta Rasulullah saw. untuk mengikuti ibadah mereka, dan mereka pun akan mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw. menolak permintaan mereka. Jadi dengan dalil apapun shalawat yang dioplos dengan tata cara, instrument nada, dan lirik pemujaan yang sama dengan agama lain itu tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan firman Allah Swt. dalam surat al-Kafiruun tersebut.

Selain itu bukankah agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. itu sudah sempurna? Firman Allah Swt. (yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS al-Maaidah [5]: 3)

Umar bin Khaththab r.a berkata, "Dulu kami adalah kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami. Karena itu seorang muslim, tidaklah akan mendapatkan kemuliaan bila ia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya ia lemah, meskipun merasa dirinya kuat; ia fakir, meskipun merasa dirinya kaya”.

Jadi nggak ada kemuliaan tuh dalam shalawat yang sejenis itu. Haram dilakukan. Udah jelas kalo yang haq dan yang batil itu terpisah dan tidak bisa dicampur seenaknya walaupun namanya shalawat. Kalo kita ngikut terus kayak gitu dan serba permisif bisa hancur deh keislaman dan keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikuti mereka”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah mereka Yahudi dan Nasrani yang Rasul maksudkan? Nabi saw menjawab, “Siapa lagi”. (HR Muslim)
Bro en Sis, kalo ada yang beralasan bahwa shalawat seperti itu adalah untuk mempromosikan Islam kepada agama lain, itu juga nggak bisa dibenarkan. Sebab, nggak ada tuntunannya dari Allah Swt. dan RasulNya. Toh kiblat kita pun berbeda dengan mereka. Ngapain juga kita membuat-buat syariat baru untuk membuat orang lain beriman. Nggak boleh sembarang cara. Tapi tetap kudu ngikutin ajaran Islam.
Memang, kita adalah umat terbaik yang diseru untuk menyampaikan yang makruf dan mencegah yang munkar. Tapi sudah jelas seruan-seruan yang kita lakukan haruslah sesuai dengan syariat-syariat Islam. Sebab, kita sudah beriman dan akidah kita adalah akidah Islam. Ok?

Solusi yang gue tawarin
Karena zaman sekarang udah banyak amburadulnya, maka elo harus hati-hati bergaul. Inget nih, hati-hati bukan berarti menutup diri dari pergaulan. Tapi hati-hati adalah benar-benar menyeleksi setiap budaya yang masuk: apakah itu layak diterima atau nggak. Jangan menutup diri terhadap sesuatu yang baik. Elo kudu obyektif. Jangan gara-gara seseorang itu make sorban dan jubah terus pake gelar kiai, terus elo main gampang aja nerima setiap pendapat dia, padahal pendapat tersebut bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Sebaliknya, kalo ada orang yang elo anggap penampilannya biasa-biasa aja tapi ngasih tahu elo tentang kebaikan berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, elo jangan sampe menolaknya. Apalagi sampe elo bilang: “Kamu udah hapal berapa hadits?”. Halah, bukannya nanya hadis itu sahih atau nggak eh malah nanyain jumlah, kan nyeleneh namanya tuh!

Yuk, kita ubah cara pandang kita. Pokoknya kalo sesuatu itu berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, kita kudu terima karena kita adalah muslim. Inget lho, umat terbaik. Bukan umat yang hanya bisa bertaklid pada leluhur seperti orang jahiliyah dan malah menolak syariat Allah dengan alasan ketokohan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS al-Baqarah [2]: 170)

Bro, yuk terus kita sampaikan dakwah Islam dengan cara yang benar dan baik sesuai dengan syariat Islam. Jangan takut untuk menghadapi intimidasi dari orang-orang yang ingin menghancurkan Islam atau dari orang-orang yang bodoh tentang Islam tapi sok tahu. Tugas kita adalah menyampaikan apa yang telah Allah dan RasulNya turunkan. Soal hasil, itu adalah urusan Allah Swt. Kita nggak usah terlalu kecewa kalo nggak berhasil. Yang penting udah berdakwah. Baca dan tadaburi al-Quran, insya Allah iman elo makin kuat deh. Selain itu, tetep terus mengkaji Islam sebaik-baiknya, sedalem-dalemnya dan serajin-rajinnya ya. Jangan lupa juga elo sering-sering baca buletin gaulislam (hehehe.. promosi dah gue), rajin kunjungi juga websitenya:http://gaulislam.com. Gabung juga bareng redaksi gaulislam di facebook (http://facebook.com/gaulislam). Terus, buat kamu yang di daerah Bogor dan sekitarnya, bisa sering-sering juga deh dengerin acara [klinik] gaulislam setiap Rabu pagi di KISI 93.4 FM Bogor. Swit swiw, insya Allah banyak sarana untuk jadi pinter dan nguatin iman kita. Tetap semangat, Bro![ikrar: ikrarestart@gmail.com]

Jilbab Bukan Sekadar Simbol

Buletin Gaul Islam
21 Juli 2009 - 08:12
gaulislam edisi 090/tahun ke-2 (20 Rajab 1430 H/13 Juli 2009)

Siapa sih yang nggak tahu jilbab itu apa? Yupz…jilbab adalah baju takwa seorang muslimah. Meski banyak salah kaprah dalam memahami definisi jilbab tapi kita semua sepakat bahwa aurat muslimah itu semua bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dan itu, kudu ditutup biar yang tidak berkepentingan nggak bisa lihat.

Seiring dengan gencarnya dakwah Islam di tengah masyarakat, Alhamdulillah banyak muslimah yang sadar untuk menutup aurat. Di satu pihak, hal ini kudu kita syukuri. Tapi di pihak lain, ternyata jilbab marak itu hanya sekedar trend. Parahnya, ada juga pihak yang menjadikan jilbab ini hanya sebatas simbol berupa secarik kain penutup kepala. Bahkan akhir-akhir ini banyak pro dan kontra tentang jilbab yang katanya sebagai komoditi politik golongan tertentu.
Hmm…ternyata jilbab membawa bahasan yang tak kalah serunya untuk diobrolin. Biar anti manyun, ikuti terus yuk topik tentang jilbab ini. Tarik maaang!

Jilbab=ketundukan
Inti dari Islam adalah ketundukan. Tunduk dan patuh pada Dzat Yang Maha Menciptakan dan Mengatur, termasuk dalam urusan berpakaian seorang muslimah. Dalam hal ini, Allah telah mengaturnya dalam QS an-Nur [24]: 31 dan al-Ahzab [33]: 59 (untuk isi ayat dan terjemahannya secara lengkap, silakan baca al-Quran yang kamu punya ya..).

Ketika Allah Swt. telah menetapkan satu syariat bagi manusia, maka tak ada pilihan bagi manusia tersebut untuk memilih syariat/aturan lainnya. Perintah Allah ini haruslah disambut dengan ketundukan dan keikhlasan dalam menjalankannya (nah, biar lebih mantap, penjelasan ini bisa kamu baca di al-Quran surat al-Ahzab ayat 36)

Meskipun demikian, ternyata fakta di lapangan menunjukkan bahwa berjilbabnya seseorang tidak selalu karena factor takwa. Banyak factor-faktor lain yang menyertai niat seseorang ketika ia memutuskan menutup aurat. Ada yang berjilbab karena alasan lebih simple dan nggak bingung memilih mode ketika akan bepergian. Ada juga yang mengatakan dirinya terlihat lebih cantik bila berjilbab. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sudah waktunya berjilbab karena sudah berumur. Hanya anak muda saja yang pantas untuk tidak berjilbab. Waduh…kacau juga ya.

Parahnya, ada yang berjilbab karena bintang idolanya berjilbab juga. Atau istri politisi tertentu berjilbab, sehingga akhirnya hal ini jadi alasan untuk ikut pemilu dalam sistem kufur bernama demokrasi. Bahkan saat ini jilbab menjadi salah satu media untuk mempolitisir Islam.

Padahal sesungguhnya, jilbab adalah satu bentuk kecil dari ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Khaliknya. Sedangkan bentuk ketaatan lainnya masih sangat banyak yaitu dalam semua aspek kehidupan. Termasuk juga dalam menyalurkan aspirasi politik, umat Islam kudu taat pada aturan Allah Ta’ala secara mutlak. Tidak boleh hanya karena simbol jilbab terus jadi ikut-ikutan berpesta demokrasi yang jelas-jelas menjadikan manusia sebagai berhala. Yang bersimbol jilbab aja nggak boleh, apalagi bagi yang tidak berjilbab. Ini masalah prinsip Bung! Bukan sekadar ikut-ikutan aja karena setiap amal pastilah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Jilbab dan politik
Di tengah suhu Indonesia yang panas dengan gempita pemilu, jilbab menjadi ramai diperbincangkan. Ada pro dan kontra menyikapi soal jilbab ini. Ada yang bersuara keras agar jilbab tidak dikaitkan dengan kepentingan politik apa pun. Agama terlalu suci untuk dilibatkan dengan politik yang kotor, itu alasannya. Tapi di sisi lain, ada juga pihak yang tersepona, eh, terpesona karena ada sosok tertentu yang berjilbab sehingga menganggapnya lebih islami.

Agar kamu nggak bingung, yuk kita dudukkan masalah jilbab dan politik ini di tempat semestinya. Pertama, kamu kudu paham dulu makna politik. Dalam Islam, politik adalah riayatus-syu’unil ummah, yaitu mengurusi urusan umat dengan satu sistem tertentu yaitu Islam. Yang namanya urusan umat, itu bukan tentang jilbab saja. Tapi sejak mulai bangun tidur hingga tidur lagi termasuk juga dalam mengelola perekonomian, pendidikan, pidana, perdata dsb, itu juga bagian dari urusan umat.

Islam tidak mengenal sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Sebaliknya, Islam adalah the way of life plus ideologi yang kudu ada pada diri seseorang yang mengaku dirinya muslim. Karena tak ada sekulerisme, maka politik pun menjadi bagian dari Islam. Ketika kamu sadar sebagai muslimah kudu berjilbab, maka saat itulah kamu mempunyai kesadaran politik yang bagus. See…ternyata makna politik tidak sesempit yang kamu kira sebelumnya.

Politik tidak melulu bermakna kekuasaan. Tapi kekuasaan diperlukan untuk menegakkan agama termasuk salah satunya adalah berjilbab. Mungkin kamu nggak pernah ngalami yang namanya berjilbab diusir dari sekolah negeri. Itu karena saat itu peraturan pemerintah melarang pemakaian jilbab di lingkungan akademis. Walhasil, yang namanya muslimah berjilbab diseret dan diusir dari kelas menjadi hal yang lazim sekaligus mengenaskan. Saya pun pernah diintimidasi aparat hanya karena menolak foto KTP dan SIM yang memperlihatkan telinga.

Dari cerita di atas, jelas banget kan kalo ternyata kebijakan politik yang pro syariah itu sangat dibutuhkan. Dan syariah ini nggak akan mungkin kaaffah (keseluruhan) dilaksanakan dalam sistem yang bernama demokrasi. Karena hakikat demokrasi ini adalah suara terbanyak tak peduli halal dan haram. Jadi kalo mayoritas bilang jilbab haram, maka sah saja negara bilang jilbab haram. Begitu sebaliknya, bila pelacuran dikatakan halal karena ada maslahat di sana yaitu pajak bagi negara, maka demokrasi pun mengesahkannya.

Intinya, syariah Islam nggak bakal bisa sempurna penerapannya dalam sistem kufur bernama demokrasi. Syariah hanya bisa tegak dalam sebuah sistem yang memang sudah ada tuntunannya dalam Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Inilah sebuah kepemimpinan umum kaum muslimin sedunia tanpa ada sekat-sekat bernama nasionalisme.

Jilbab= simbol?
Ngomongin jilbab ternyata tidak sederhana ya? Bukan melulu selembar kain penutup kepala yang saat ini lagi trend dipakai perempuan. Aturan jilbab diturunkan bukan tanpa maksud. Di dalam QS al-Ahzab ayat 59, Allah Swt. menyatakan bahwa agar para muslimah itu mudah dikenali dan tidak diganggu. Para munafiqun biasanya berdalih, bahwa hukum berjilbab tidak lagi wajib apabila muslimah tidak lagi mendapat gangguan. Nah…lho… (ngarang deh lo!)

Di posisi inilah keimanan seorang muslim teruji. Dalam melaksanakan syariat, bukan manfaat yang kita kejar. Tapi harus murni karena taat dan tunduk pada Allah semata. Apabila ada manfaat di dalamnya, itu hanya efek samping dan bukan tujuan utama. Yakinlah, bahwa syariat yang berasal dari Allah Ta’ala itu pasti membawa manfaat bagi manusia. Hanya karena kelemahan dan kebodohan manusia saja, yang seringkali kita ini belum mampu menyibak makna di balik perintah dan larangan Allah.

Jilbab memang sebuah simbol, bahwa seseorang yang memakainya adalah perempuan muslim. Jilbab adalah simbol bahwa muslimah yang memakainya itu (seharusnya) berbeda daripada yang tidak memakai. Aneh banget bila berjilbab tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berjilbab tapi mojok berduaan dan beraktivitas mesum, nauzhubillah. Jilbab sebagai simbol baju takwa seorang muslimah menjadi runtuh. Sehingga tak heran banyak suara nyinyir yang mengatakan ‘lebih baik nggak usah berjilbab kalo kelakuan masih bejat.’

Wah….ini yang sering salah kaprah. Kalo ada cewek berjilbab yang tingkah lakunya nggak senonoh, bukan jilbabnya yang salah. Tapi pribadi cewek tersebut yang kudu dibenerin. Jangan malah, udah nggak berjilbab, kelakuan rusak lagi. Watau, naudzhubillah. Jangan mau jadi tipe yang ini. Harusnya tuh, berjilbab dan sholihah, itu cermin diri muslimah yang sebenarnya.

Nah, bagi yang berjilbab tapi masih norak, juga kudu nyadar bahwa jilbab yang tersandang itu mempunyai konsekuensi tertentu pula. Jadi udah nggak bisa seenaknya sendiri ketawa ngakak di depan umum, terus runtang-runtung sama cowok non mahrom. Jangan deh.

Jilbab memang simbol tapi esensinya juga kudu harus dipahami. Jilbab adalah tabir bagi muslimah dari berbuat maksiat dan dosa. Jilbab adalah sebuah identitas diri bahwa pemakainya juga harus sesuai dengan apa yang dipakainya. Jilbab adalah satu langkah awal untuk siap menerima aturan-aturan Allah lainnya termasuk dalam hal pergaulan, batasan dengan lawan jenis, serta interaksi lainnya.

Jilbaber pejuang
Jilbab adalah wajib bagi yang merasa dan mengaku dirinya perempuan muslim. Jilbab memang terkait erat dengan politik tapi dalam makna yang benar. Meskipun terkait erat dengan politik, tidak berarti bahwa seseorang yang sudah berjilbab maka sudah tentu ia setuju dan memperjuangkan diterapkannya syariah. Dalam hal ini, sebagai muslimah kamu kudu kritis dan selektif. Jangan mau diperdaya oleh petinggi-petinggi partai yang berkoalisi demi empuknya kursi kekuasaan namun menjual idealisme penegakan syariat Islam.

Terkait dengan hasil pemilu yang baru saja berlalu, siapa pun pemenangnya, berjilbab atau pun tidak istri para pemimpin tersebut, tetap hukum kufur aturannya. Jadi, nggak usah terlalu gembira deh hanya karena partai islam tertentu berkoalisi dengan pemimpin yang menang tersebut. Toh…keadaan tidak akan pernah berubah karena syariat masih saja dianggap tidak perlu untuk ditegakkan.

Sistem demokrasi, berhala manusia saat ini, masih saja tampil sebagai pemenang. Hal ini tak ada kaitannya dengan kemenangan partai Islam tertentu, apalagi kemenangan hasil koalisi dengan partai sekular. Jilbab benar-benar dianggap hanya sekadar selembar kain yang tak mempunyai makna apa-apa. Naudzubillah. Bila kepentingan duniawi telah mengalahkan cita-cita mulia partai dakwah, maka tunggu saja ketika Allah akan memberikan keputusanNya.

So, para muslimah, WAKE UP! Di balik jilbab yang kamu kenakan ada tanggung jawab besar untuk membuat perubahan. Jangan mau terpedaya oleh slogan palsu yang mengatasnakaman Islam. Gimana supaya tak gampang terpedaya? Belajar Islam yang kaafaah sebagai sistem kehidupan yang utuh, bukan sepotong-sepotong. Bagaimana pun, harga sebuah idealisme harusnya lebih mahal daripada kepentingan bagi-bagi kursi dalam pemerintahan yang tidak islami. Cita-cita diterapkannya syariat Islam nggak boleh luntur secuil pun dari perjuanganmu. Dan syariah Islam ini nggak mungkin bisa diterapkan kecuali dalam sebuah sistem bernama Khilafah Islamiyah.

Jilbaber, ayo berjuang bersama. Bagi yang belum berjilbab, ayo mulai saat ini tanamkan tekad untuk memulai sebuah perubahan dalam dirimu. Di mana pun kamu berada dan bergerak, samakan langkah agar tujuan lebih mudah teraih, insya Allah. Karena sungguh tak ada kemuliaan kecuali dengan Islam, tak ada Islam tanpa syariah, tak ada syariah kecuali dalam naungan daulah Khilafah Islamiyah. Semangat! [ria: riafariana@yahoo.com]

Kalo Cewek Ngeblog

Buletin Gaul Islam
31 Oktober 2009 - 09:24
gaulislam edisi 104/tahun ke-2 (30 Syawal 1430 H/19 Oktober 2009)

Hari gini siapa yang kenal blog? Buat para netter sejati, blog pastinya udah jadi pemandangan yang nggak asing lagi, walaupun nggak semua sih kalo netters itu blogger juga. Nah, ternyata di antara para blogger itu banyak juga lho dari kalangan cewek. Kini, dengan berbagai ragam penampilan dan isi blog, mereka meramaikan dunia maya. Hmmm … kayak apa ya kalo para cewek ngeblog? Isinya kira-kira tentang apa aja ya? Intip aaaah…

Isi blog cewek
Diary. Blog macam gini banyak nampang di dunia virtual. Isinya tentang curhatan hati pemlik blognya. Kejadian-kejadian lucu, sedih, bahagia, ngebetein, bikin ill feel semua numplek di blog macam gini. Biasanya nih kejadian-kejadian yang beragam rasa itu ada hubungannya sama gebetan, temen-temen di sekolah atau kuliah or di tempat kerja, sohib-sohibnya, tempat belanja, fashion, penampilan, liburan, ortu, keluarga, dan seabrek cuhatan lainnya. Nggak lupa juga yang punya jiwa narsis bisa leluasa pasang foto-foto diri dengan gaya yang bebas ekspresi. He..he…

Nah, kalo yang punya blognya adalah cewek nih bahasa berkisahnya bisa dalem banget. Kadang suka agak-agak centil. Dan, kabar-kabarinya nih dengan gaya cewek kayak gitu traffic kunjungan ke blog bisa tinggi. Maka, nggak heran ada blogger cowok yang bikin blog dengan gaya cewek, dan pastinya namanya juga pake nama samaran yang cewek. Ckckck….

Kuliner. Blog tipe kayak gini emang nggak semuanya dibikin sama cewek, tapi sebagian besar emang iya. Di blog kayak gini biasanya pengunjung bisa dapetin banyak resep makanan, mulai dari masakan sayur, lauk-pauk, kue, minuman, en lain-lain. Ada yang resep lokal. Ada juga yang impor. Eh, ada juga lho blogger kuliner yang menyediakan info tempat jajan yang beragam level, dari yang pinggir jalan sampai yang restoran mahal. Dateng ke blog beginian bisa bikin laper! Jiahahah..

Hobi. Para bloggers tipe gini bisa jadi rujukan buat para netter yang hobinya sama. Nah, kalo cewek biasanya ngulik hobi yang terkait dengan beragam koleksi: koleksi perangko, parfum, novel, dan sebagainya. Ada juga isinya tentang hewan peliharaan. Segala pernik cerita terkait Si Peliharaan dimuat di blog. Atau tentang … hobi belanja! Cewek banget nggak sih? (backsound: Nggak gua tuh! Hehehe…). Sssttt … gara-gara hobi belanja terus kasih info tempat belanja, harga barang pasaran sampe yang branded bisa bikin seorang blogger jadi seorang konsultan. Bisa gratisan sampe yang dibayar. Menggiurkan? Kalo cuma mikir duitnya doang sih emang, tapi kalo mikir lebih jauh tentang orang-orang yang dibawa ke ajang konsumerisme akut en kronis sih mending nggak lha yaw!

Jualan. Nih blogger yang emang business-oriented banget. Cocok buat cewek yang pengen ngejalanin bisnis dari rumah. Sah-sah aja kok ngejadiin blog untuk sarana dagang. Asal yang dijual bukan yang diharamkan dan jualannya nggak pake curang. Bisnis kan taruhannya kepercayaan. Akad jual-beli juga mesti diperhatiin walaupun di alam maya. Sebagai muslimah, tentunya gimana Islam ngatur soal kayak gitu itu mestinya jadi sandaran.

Idola. Wah, kalo blog jenis ini sih bertebaran. Ada yang emang bikin blog khusus untuk didedikasikan buat Sang Idola atau yang integrated (ceileeeh bahasanya tuh!) sama blog diary. Mulai dari seleb lokal, interlokal sampai internasional bisa banyak dicari. Isinya dari mulai data pribadi, foto dengan berbagai pose, agenda kegiatan, sampai berita terkini Si Idola. Wuih! Rajin banget ya? Semoga semangat pengen tahu tentang Islam juga tetap membara dong ya.

Yang jadi problem
Sebenarnya sih nggak ada larangan buat cewek ngeblog. Tapi, yang mesti diperhatiin lebih adalah apakah isi blognya itu bermanfaat buat orang lain atau nggak, atau malah bikin yang lain nggak sadar bikin kesalahan juga. Eh, ada yang nimpalin tuh. “Blog gua selalu gua pastiin bisa kasih manfaat buat orang lain kok. Para pengunjung bisa dapetin segala hal tentang Si Seleb X.”

Nah, lho. Urusan idola dan mengidolakan--en kayaknya juga udah sering dibahas di gaulislam—ada aturan bakunya dalam Islam. Kita dilarang keras untuk “menuhankan” manusia. Mungkin ada yang yang protes kalo nggak sampe segitunya juga kok ngidolain Si Doi. Biasa-biasa aja kok. Tapi, yang namanya mengidolakan nggak ada yang biasa-biasa aja kalleee, Sis. Faktanya nih kalo udah mengidolakan sesorang kita seringkali lupa diri. Histeria di sana-sini. Atau yang paling ‘ringan’ nih, bisa melalaikan kita dari mempelajari sosok manusia yang seharusnya en wajib kita pelajari yaitu Rasulullah saw. Kalo udah gitu kan nggak bener banget deh.

Cerita soal pacar, mantan pacar, calon pacar, itu juga jadi persoalan lain di blog. Hubungan cinta mesra antara lawan jenis nggak semestinya diumbar di media publik. Blog gimanapun kan area umum. Plus, pacarannya itu sendiri kan udah jelas ada hukumnya. Dalam kamus muslimah nggak bakalan pernah ada kalo pacaran iu halal. Iya nggak sih?

Bikin blog soal shopping juga nggak jadi masalah selama itu nggak bikin kita jadi “penjerat” orang lain ke kubangan konsumerisme. Okelah para pengunjung blog kita itu orang berduit semua, en mampu untuk beli apapun yang mereka liat di blog kita. Tapi kan sayang banget kalo duit segitu banyak cuma untuk belanja doang. Jangan boros ya. Rugi banget lho.

Ada juga yang blogger cewek (paling nggak dari nama blog-nya keliatan blog cewek) isi blognya lebih naudzubillahi min dzalik. Error abis! Kisah hot alias porno bisa vulgar ditampilin di sini. Maksudnya apa seeeh? Udah bikin blognya dosa, bikin orang lain ikut dosa. Makin numpuk aja tuh dosa. Iiiih nggak banget deh ah!

Blog sehat buat para muslimah
Keberadaan blog nggak bisa dihindari di jaman millennium kayak sekarang. Fenomena blog udah merambah jadi bagian kehidupan. Tapi, bukan berarti kan buat kita-kita yang muslimah jadi ikutan latah bikin blog tanpa mikir tujuan dan untuk siapa aja blog itu entar kita buat.

Bro en Sis, kamu perlu tahu bahwa dalam Islam sebelum kita berbuat harus tahu status hukum perbutan yang akan kita lakukan. Sebagaimana dalam kaidah syara (yang artinya): “Asal dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara”. Ini artinya, apa yang kita lakukan ada konsekuensi hukumnya. Maka, pastikan bahwa yang dilakukan itu benar menurut tuntunan syariat Islam. Ok?

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]: 7)

Nah, berdasarkan kaidah hukum syara dan dalil al-Quran di atas, maka bikin blog jadinya nggak bisa semaunya sendiri. Kita mesti pastiin kalo blog yang kita bikin adalah blog yang sehat alias blog yang aman untuk diakses orang banyak. Aman dalam batasan hukum syara’ pastinya.
So, kalo mau ditegesin lagi blog yang sehat itu punya syarat sebagai berikut:

Pertama, isi dan desain tidak bertentangan dengan syari’at. Untuk bisa mastiin isi sampe desain blog (jangan sampe ada gambar yang nggak sesuai dengan Islam) bener-bener sehat, nggak bertentangan dengan syari’at. Sebagai blogger, kamu kudu punya pengetahuan tentang Islam. Ya iya dong. Pengetahuan yang cukup tentang Islam bakal bisa bikin blogger punya panduan yang memadai untuk memilih mana yang boleh ditulis dan mana yang nggak boleh ditulis dan disebarkan.

Kedua, mencerahkan pengunjung blog. Blog yang sehat adalah blog yang bisa memberikan inspirasi kebaikan kepada para pengunjungnya. Misalnya nih: pengunjung yang sebelumnya nggak ngeh tentang wajibnya menutup aurat buat seorang muslimah jadi tergerak untuk segera menutup aurat setelah mampir ke blog kita, atau jadi cewek yang mau lebih peduli sama lingkungannya gara-gara baca postingan kita.

Itu dua syarat pokok kalo kita pengen punya blog yang sehat. Kalo pengen poin plus-plusnya juga, kita bisa dapetin dari desain blog yang dibikin sekeren mungkin. Untuk bisa seperti itu emang ada pengetahuan lain yang mesti kita punya, seperti pengetahuan kita tentang CSS (Cascading Style Sheet), flash, java script, HTML, XHTML, dan lain-lain. Tapi, kalaupun nggak jangan juga jadi berkecil hati. Sekarang blog gratisan pun menyediakan template lay out yang bagus-bagus kok.

Blogger muslimah kudu tangguh dan cerdas
Muslimah adalah elemen penting kebangkitan umat. Kalo kita ngomongin umat tentunya bukan cuma yang di Indonesia aja tapi juga yang di belahan dunia lainnya. Saat ini umat Islam dalam kondisi di titik nadir: dijajah secara fisik juga kekayaan alam. Lebih miris lagi tidak semua umat Islam menyadari keterpurukan tersebut. Itu karena cara pandang sebagian umat telah berhasil dialihkan secara halus oleh para penjajah. Umat Islam menjadi umat yang cinta dunia dan takut mati.

Nah, siapa lagi yang mau membangkitkan umat Islam kembali menjadi khoiru ummah (sebaik-baik umat) kalau bukan umat Islam yang telah sadar? Dan siapakah bagian dari umat Islam yang telah sadar itu? Salah satu bagiannya ya muslimah. Caranya? Berdakwah pastinya dong ya. Menunjukkan yang haq itu haq (benar itu benar), dan yang bathil itu bathil (salah itu salah). Dakwah, seperti yang ditunjukkan oleh suri teladan kita semua, Rasulullah saw. yang membuat orang akhirnya menyadari sepenuhnya hakikat penciptaan dirinya sehingga muncul kerelaan untuk diatur hanya oleh aturan Allah Swt.

Sobat muda muslim, cara berdakwah bisa beragam. Salah satunya bisa melalui blog. Nah, blogger muslimah kudu punya persiapan yang mantap untuk bisa menghadirkan pencerahan di blognya. Apa aja ya?

Pertama, selalu update pengetahuan Islam. Blogger muslimah emang kudu ngaji. Selain emang udah jadi kewajiban, ini modal paling penting untuk jadi blogger yang cerdas. Nggak ngaji ya siap-siap aja jadi blogger yang bisanya cuma ngikut tren doang.

Kedua, selalu bertekad untuk berbagi ilmu, pemikiran, dan perasaan sesuai dengan Islam. Udah ngaji tapi cuma buat kebaikan sendiri sih nggak bisa masuk kualifikasi. Blogger muslimah kudu mau sharing ilmu ke semua orang. Baik ilmu Islam maupun ilmu pengetahuan, juga keahlian yang dimiliki, yang dinilai bisa membuat oang lain pun jadi berdaya.

Ketiga, selalu mengasah daya kritis terhadap suatu fakta sehingga bisa kasih solusi. Blogger muslimah kudu mau baca en mengamati fakta. Dia kudu jadi orang yang peduli sama sekitarnya. Untuk syarat yang ini, nggak bakal ada deh blogger muslimah yang nyaman menyendiri di kamarnya berhadapan dengan komputer atau laptop yang tersambung ke alam maya.

Keempat, selalu mau upgrade keahlian. Blogger muslimah juga kudu mau ningkatin level keahliannya. Blog kan macem-macem. Ada blog tulisan seperti blogspot, multiply, dan wordpress. Ada juga blog khusus foto seperti photobucket dan flicker. Blog khusus lainya adalah blog video seperti youtube.

Nah, untuk bisa menghasilkan konten yang bagus, blogger khususnya muslimah emang harus mau terus belajar dan belajar sehingga bisa bertambah lihai menulis, mengambil angle foto yang mencengangkan, dan membuat tayangan yang menggugah kesadaran.

Yuk mulai ngeblog sehat!
Kalau buat para sobat muslimah yang belum punya blog en pengen punya blog, nah sekarang nih saatnya. Pertama, pastiin kalian semua udah baca syarat blog sehat kayak apa. Dan selanjutnya, silakan memilih situs blog gratisan yang kalian inginkan. Atau mau beli domain sendiri? Silakan. Banyak yang menawarkan harga domain dan biaya hosting yang murah. Mau yang gratisan atau bayar nggak jadi soal yang penting isi mesti berkualitas.

Kalau udah punya blog, ya jangan ditinggal dong. Pelihara dengan baik. Isi terus blog kamu dengan postingan yang berkala. Eh ya jangan lupa, tukeran link sama saudara-saudara muslim lainnya supaya makin banyak yang datang ke blog kamu. Atau bikin pengumuman aja lewat situswww.gaulislam.com. Emang bisa? Bisa dong. Caranya, sering-sering deh berkunjung ke situsnya buletin gaulislam ini, terus rajin kasih komen sambil tempelin deh tuh link blog kamu di situ. Sip kan! Saling berbagi nggak bakal bikin rugi. So, para blogger muslimah, umat menunggu kiprahmu. Jadilah muslimah yang cerdas, shalihah, rajin dakwah, dan punya keterampilan oke. [Nafiisah FB|http://nafiisahfb.co.cc]

Kuatkan Imanmu, Bro!

Buletin Gaul Islam
17 November 2009 - 01:42
gaulislam edisi 106/tahun ke-3 (14 Dzulqaidah 1430 H/2 Nopember 2009)

Gue bingung nih, kok di Indonesia kini banyak sekali muncul aliran-aliran sesat dan tumbuh subur pula. Padahal mayoritas penduduknya kan orang Islam. Gue catet nih ya, ada Ahmadiyah, hadir juga Kerajaan Tuhan yang dikembangan Lia Eden, pernah ada Ahmad Mushadeq dan Amaq Bakri yang tiba-tiba ngaku sebagai nabi, ada juga pengajian Ilmu Kalam Santriloka yang bilang nggak perlu shalat dan nggak perlu puasa Ramadhan, plus menyalahkan sebagian isi al-Quran, dan aliran sesat lainnya. Celakannya, mereka juga mengaku bagian dari Islam. Padahal ajaran mereka nggak sesuai dengan ajaran Islam. Wah, gimana nih? Udah pada error kali ye.

Jadi kali ini gue akan membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan akidah. Meskipun mungkin bakal kurang nih space yang disediakan buletin kesayangan kamu semua yang makin cool aja untuk membahas tema ini. But, sedikit demi sedikit pasti ada gunanya buat kamu semua. Iya nggak sih?

Akidah Islam
Akidah Islam ialah beriman kepada Allah Swt., Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasuNya, hari kiamat, qadha dan qadar. Oya, yang namanya beriman tuh nggak boleh asal-asalan. Tapi harus berdasarkan dalil yang pasti. Jadi alasan untuk beriman itu nggak bisa sembarangan. Misalnya, elo beriman gara-gara ikut-ikutan seseorang yang bergelar profesor doktor dan serentetan gelar lainnya yang sepanjang gerbong kereta api jabodetabek. Nggak lah. Iman wajib diyakini bener-bener alias elo harus paham kenapa alasannya elo beriman Sebab, iman itu ialah sebuah pembenaran yang pasti, berdasarkan fakta-fakta yang ada, bukan karena taklid buta pada seseorang.

Nah, dalam Islam kita mengenal dua dalil yaitu dalil aqli (akal/yang dapat diindera) dan dalil naqli (sesuatu yang dijelaskan oleh al-Quran dan as-Sunnah). Dalam sarana meraih keimanan, akal mempunyai peranan yang sangat penting. Misalnya dalam memikirkan adanya Dzat Allah sebagai Tuhan semesta alam. Di dalam al-Quran dijelaskan tentang kisah Ibrahim (as) dalam mencari Tuhan. Allah Swt berfirman (yang artinya): “Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) Agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musryik” (QS al-An’am [6]: 76-79)

Bro en Sis, pencarian keimanan tak lepas dari akal. Sebab akal adalah karunia terbesar bagi manusia dan karena dengan akal juga Allah memerintahkan malaikat bersujud pada Adam. Banyak penekanan yang diberikan al-Quran agar manusia menggunakan akalnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (QS al-Baqarah [2]: 269)

So, dalam Islam fungsi akal amatlah dibutuhkan. Akal tidaklah merongrong iman. Malah akal akan memperkuat dalam pencarian akan iman. Buktinya orang semakin memahami al-Quran semakin kuat pula keimanannya. Banyak bangsa di negara maju tertarik dengan Islam ketika membaca kandungan al-Quran atau malah menjadi muslim karena mencoba mengkritisi al-Quran. Firman Allah Swt. (yang artinya):”Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS ar-Ra’d [13]: 19)

Juga dalam firmanNya (yang artinya): “(al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganNya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS Ibrahim [14]: 52)

Wuih Bro, kayaknya masih banyak ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya untuk beriman kepada Allah Ta’ala. Tapi gue nggak bisa nulisin semua nanti bisa-bisa kepanjangan deh nulisnya. Wacks!

Sobat muda muslim, dalam Islam keimanan haruslah utuh nggak boleh setengah-setengah. Nggak ada tawar-menawar pula. Cuma ada dua pilihan, yaitu iman dan kafir. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)’, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya. dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 150-151)

So, dalam akidah Islam nggak boleh tuh dikurang-kurangi. Nggak boleh kita cuma iman kepada Allah dan ingkar kepada rasul atau iman kepada Allah Swt. dan rasul tapi mengingkari al-Quran dan syariat yang tertera di dalamnya. Hey, nggak banget deh!

Hmm.. kalo iman elo itu memang bener-bener mantep, elo nggak perlu khawatir lagi deh. Sebab elo udah yakin bahwa sesuatu yang udah ditentukan oleh Allah Ta’ala adalah yang terbaik walaupun elo diancam orang supaya ninggalin keimanan elo. Mushab bin umair pun pernah diancam oleh Usaid bin Khudair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka bani Abdil Asyhal. Tapi tetap teguh dengan Islam, tuh. Oya, kalo iman elo udah kuat, elo juga nggak akan dengan gampang ninggalin iman yang elo miliki ketika mengalami siksaan. Bilal bin Rabbah pun pernah ngalami siksaan dari kaum Quraisy dengan cara tubuhnya ditindih batu di terik matahari padang pasir. So, tetap istiqamah dan sabar di jalan Allah ya. Semangat!

Yang merongrong iman
Elo lihat sendiri deh, banyak tuh orang yang gaya hidupnya cenderung kebarat-baratan dan nggak selektif. Misalnya gue sering ngeliat anak-anak muda genjrang-genjreng di atas panggung sambil bawain lagu Underoath. Atau asik moshing ketika ngedengerin lagu-lagunya As I Lay Dying danDemon Hunter yang merupakan gerombolan band Christian Metal yang berasal dari kulon (baca: Barat). So, karena lagi tren tuh lagu ya udah deh mereka happy-happy aja tanpa tahu makna dari lirik-lirik lagunya. Entah karena suara vokalnya yang kurang jelas atau mereka nggak ngerti bahasa Inggris, sehingga mereka nggak merasa risih dengan lagu-lagu kayak gitu.

Lagu-lagu itu sebenarnya kalo diperhatiin lagi ampir mirip sama ceramah pastur di gereja. Kalo gue sih sori-sori aja ngikut-ngikut kayak gitu walaupun gue masih suka maen skateboard (lho, apa hubungannya? Hehe…). Sebab, gue rasa nggak ada yang salah dengan alat olahraga tersebut karena hukum asalnya benda itu kan mubah, kecuali ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Oya, kejadian ini nggak cuma terjadi di kalangan anak muda. “Anak tua” pun sama kayak gitu juga deh. Gue geleng-geleng kepala sambil gantian bergumam: “Dasar anak tua jaman sekarang ada-ada aja!” Misalnya nih, ada shalawat yang dibawain Kiai Kanjeng--yakni kelompok musik yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib--dengan menggunakan lagu Stile Nacht (malam kudus) yang diiringi instrument ala Franz Xaver Gruber dioplos sama Shalawat Badar terus dinamain Shalawat Universal. Memang, shalawat ada tuntunannya di al-Quran. Allah Swt. berfirman (yang artinya):“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(QS al-Ahzab [33]: 56)

Nah, yang jadi masalah adalah kalo dicampur kayak Shalawat Universal, itu nggak boleh. Coz, lagu malam kudus udah khusus produk budaya dari kaum agama lain. Apalagi sampe featuringsama biarawati. Gaswat bener jadinya kan?

Bro, dalam hal beribadah kita kan nggak boleh ikut-ikutan agama lain. Kalo kita baca asbabuun nuzuul alias penyebab turunnya ayat al-Quran—dalam hal ini adalah surat al-Kafirun—ternyata turunnya adalah ketika orang-orang Quraisy meminta Rasulullah saw. untuk mengikuti ibadah mereka, dan mereka pun akan mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw. menolak permintaan mereka. Jadi dengan dalil apapun shalawat yang dioplos dengan tata cara, instrument nada, dan lirik pemujaan yang sama dengan agama lain itu tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan firman Allah Swt. dalam surat al-Kafiruun tersebut.

Selain itu bukankah agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. itu sudah sempurna? Firman Allah Swt. (yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS al-Maaidah [5]: 3)

Umar bin Khaththab r.a berkata, "Dulu kami adalah kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami. Karena itu seorang muslim, tidaklah akan mendapatkan kemuliaan bila ia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya ia lemah, meskipun merasa dirinya kuat; ia fakir, meskipun merasa dirinya kaya”.

Jadi nggak ada kemuliaan tuh dalam shalawat yang sejenis itu. Haram dilakukan. Udah jelas kalo yang haq dan yang batil itu terpisah dan tidak bisa dicampur seenaknya walaupun namanya shalawat. Kalo kita ngikut terus kayak gitu dan serba permisif bisa hancur deh keislaman dan keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikuti mereka”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah mereka Yahudi dan Nasrani yang Rasul maksudkan? Nabi saw menjawab, “Siapa lagi”. (HR Muslim)
Bro en Sis, kalo ada yang beralasan bahwa shalawat seperti itu adalah untuk mempromosikan Islam kepada agama lain, itu juga nggak bisa dibenarkan. Sebab, nggak ada tuntunannya dari Allah Swt. dan RasulNya. Toh kiblat kita pun berbeda dengan mereka. Ngapain juga kita membuat-buat syariat baru untuk membuat orang lain beriman. Nggak boleh sembarang cara. Tapi tetap kudu ngikutin ajaran Islam.
Memang, kita adalah umat terbaik yang diseru untuk menyampaikan yang makruf dan mencegah yang munkar. Tapi sudah jelas seruan-seruan yang kita lakukan haruslah sesuai dengan syariat-syariat Islam. Sebab, kita sudah beriman dan akidah kita adalah akidah Islam. Ok?

Solusi yang gue tawarin
Karena zaman sekarang udah banyak amburadulnya, maka elo harus hati-hati bergaul. Inget nih, hati-hati bukan berarti menutup diri dari pergaulan. Tapi hati-hati adalah benar-benar menyeleksi setiap budaya yang masuk: apakah itu layak diterima atau nggak. Jangan menutup diri terhadap sesuatu yang baik. Elo kudu obyektif. Jangan gara-gara seseorang itu make sorban dan jubah terus pake gelar kiai, terus elo main gampang aja nerima setiap pendapat dia, padahal pendapat tersebut bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Sebaliknya, kalo ada orang yang elo anggap penampilannya biasa-biasa aja tapi ngasih tahu elo tentang kebaikan berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, elo jangan sampe menolaknya. Apalagi sampe elo bilang: “Kamu udah hapal berapa hadits?”. Halah, bukannya nanya hadis itu sahih atau nggak eh malah nanyain jumlah, kan nyeleneh namanya tuh!

Yuk, kita ubah cara pandang kita. Pokoknya kalo sesuatu itu berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, kita kudu terima karena kita adalah muslim. Inget lho, umat terbaik. Bukan umat yang hanya bisa bertaklid pada leluhur seperti orang jahiliyah dan malah menolak syariat Allah dengan alasan ketokohan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS al-Baqarah [2]: 170)

Bro, yuk terus kita sampaikan dakwah Islam dengan cara yang benar dan baik sesuai dengan syariat Islam. Jangan takut untuk menghadapi intimidasi dari orang-orang yang ingin menghancurkan Islam atau dari orang-orang yang bodoh tentang Islam tapi sok tahu. Tugas kita adalah menyampaikan apa yang telah Allah dan RasulNya turunkan. Soal hasil, itu adalah urusan Allah Swt. Kita nggak usah terlalu kecewa kalo nggak berhasil. Yang penting udah berdakwah. Baca dan tadaburi al-Quran, insya Allah iman elo makin kuat deh. Selain itu, tetep terus mengkaji Islam sebaik-baiknya, sedalem-dalemnya dan serajin-rajinnya ya. Jangan lupa juga elo sering-sering baca buletin gaulislam (hehehe.. promosi dah gue), rajin kunjungi juga websitenya:http://gaulislam.com. Gabung juga bareng redaksi gaulislam di facebook (http://facebook.com/gaulislam). Terus, buat kamu yang di daerah Bogor dan sekitarnya, bisa sering-sering juga deh dengerin acara [klinik] gaulislam setiap Rabu pagi di KISI 93.4 FM Bogor. Swit swiw, insya Allah banyak sarana untuk jadi pinter dan nguatin iman kita. Tetap semangat, Bro![ikrar: ikrarestart@gmail.com]

Kuatkan Imanmu, Bro!

Buletin Gaul Islam
17 November 2009 - 01:42
gaulislam edisi 106/tahun ke-3 (14 Dzulqaidah 1430 H/2 Nopember 2009)

Gue bingung nih, kok di Indonesia kini banyak sekali muncul aliran-aliran sesat dan tumbuh subur pula. Padahal mayoritas penduduknya kan orang Islam. Gue catet nih ya, ada Ahmadiyah, hadir juga Kerajaan Tuhan yang dikembangan Lia Eden, pernah ada Ahmad Mushadeq dan Amaq Bakri yang tiba-tiba ngaku sebagai nabi, ada juga pengajian Ilmu Kalam Santriloka yang bilang nggak perlu shalat dan nggak perlu puasa Ramadhan, plus menyalahkan sebagian isi al-Quran, dan aliran sesat lainnya. Celakannya, mereka juga mengaku bagian dari Islam. Padahal ajaran mereka nggak sesuai dengan ajaran Islam. Wah, gimana nih? Udah pada error kali ye.

Jadi kali ini gue akan membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan akidah. Meskipun mungkin bakal kurang nih space yang disediakan buletin kesayangan kamu semua yang makin cool aja untuk membahas tema ini. But, sedikit demi sedikit pasti ada gunanya buat kamu semua. Iya nggak sih?

Akidah Islam
Akidah Islam ialah beriman kepada Allah Swt., Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasuNya, hari kiamat, qadha dan qadar. Oya, yang namanya beriman tuh nggak boleh asal-asalan. Tapi harus berdasarkan dalil yang pasti. Jadi alasan untuk beriman itu nggak bisa sembarangan. Misalnya, elo beriman gara-gara ikut-ikutan seseorang yang bergelar profesor doktor dan serentetan gelar lainnya yang sepanjang gerbong kereta api jabodetabek. Nggak lah. Iman wajib diyakini bener-bener alias elo harus paham kenapa alasannya elo beriman Sebab, iman itu ialah sebuah pembenaran yang pasti, berdasarkan fakta-fakta yang ada, bukan karena taklid buta pada seseorang.

Nah, dalam Islam kita mengenal dua dalil yaitu dalil aqli (akal/yang dapat diindera) dan dalil naqli (sesuatu yang dijelaskan oleh al-Quran dan as-Sunnah). Dalam sarana meraih keimanan, akal mempunyai peranan yang sangat penting. Misalnya dalam memikirkan adanya Dzat Allah sebagai Tuhan semesta alam. Di dalam al-Quran dijelaskan tentang kisah Ibrahim (as) dalam mencari Tuhan. Allah Swt berfirman (yang artinya): “Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) Agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musryik” (QS al-An’am [6]: 76-79)

Bro en Sis, pencarian keimanan tak lepas dari akal. Sebab akal adalah karunia terbesar bagi manusia dan karena dengan akal juga Allah memerintahkan malaikat bersujud pada Adam. Banyak penekanan yang diberikan al-Quran agar manusia menggunakan akalnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (QS al-Baqarah [2]: 269)

So, dalam Islam fungsi akal amatlah dibutuhkan. Akal tidaklah merongrong iman. Malah akal akan memperkuat dalam pencarian akan iman. Buktinya orang semakin memahami al-Quran semakin kuat pula keimanannya. Banyak bangsa di negara maju tertarik dengan Islam ketika membaca kandungan al-Quran atau malah menjadi muslim karena mencoba mengkritisi al-Quran. Firman Allah Swt. (yang artinya):”Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS ar-Ra’d [13]: 19)

Juga dalam firmanNya (yang artinya): “(al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganNya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS Ibrahim [14]: 52)

Wuih Bro, kayaknya masih banyak ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya untuk beriman kepada Allah Ta’ala. Tapi gue nggak bisa nulisin semua nanti bisa-bisa kepanjangan deh nulisnya. Wacks!

Sobat muda muslim, dalam Islam keimanan haruslah utuh nggak boleh setengah-setengah. Nggak ada tawar-menawar pula. Cuma ada dua pilihan, yaitu iman dan kafir. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)’, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya. dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 150-151)

So, dalam akidah Islam nggak boleh tuh dikurang-kurangi. Nggak boleh kita cuma iman kepada Allah dan ingkar kepada rasul atau iman kepada Allah Swt. dan rasul tapi mengingkari al-Quran dan syariat yang tertera di dalamnya. Hey, nggak banget deh!

Hmm.. kalo iman elo itu memang bener-bener mantep, elo nggak perlu khawatir lagi deh. Sebab elo udah yakin bahwa sesuatu yang udah ditentukan oleh Allah Ta’ala adalah yang terbaik walaupun elo diancam orang supaya ninggalin keimanan elo. Mushab bin umair pun pernah diancam oleh Usaid bin Khudair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka bani Abdil Asyhal. Tapi tetap teguh dengan Islam, tuh. Oya, kalo iman elo udah kuat, elo juga nggak akan dengan gampang ninggalin iman yang elo miliki ketika mengalami siksaan. Bilal bin Rabbah pun pernah ngalami siksaan dari kaum Quraisy dengan cara tubuhnya ditindih batu di terik matahari padang pasir. So, tetap istiqamah dan sabar di jalan Allah ya. Semangat!

Yang merongrong iman
Elo lihat sendiri deh, banyak tuh orang yang gaya hidupnya cenderung kebarat-baratan dan nggak selektif. Misalnya gue sering ngeliat anak-anak muda genjrang-genjreng di atas panggung sambil bawain lagu Underoath. Atau asik moshing ketika ngedengerin lagu-lagunya As I Lay Dying danDemon Hunter yang merupakan gerombolan band Christian Metal yang berasal dari kulon (baca: Barat). So, karena lagi tren tuh lagu ya udah deh mereka happy-happy aja tanpa tahu makna dari lirik-lirik lagunya. Entah karena suara vokalnya yang kurang jelas atau mereka nggak ngerti bahasa Inggris, sehingga mereka nggak merasa risih dengan lagu-lagu kayak gitu.

Lagu-lagu itu sebenarnya kalo diperhatiin lagi ampir mirip sama ceramah pastur di gereja. Kalo gue sih sori-sori aja ngikut-ngikut kayak gitu walaupun gue masih suka maen skateboard (lho, apa hubungannya? Hehe…). Sebab, gue rasa nggak ada yang salah dengan alat olahraga tersebut karena hukum asalnya benda itu kan mubah, kecuali ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Oya, kejadian ini nggak cuma terjadi di kalangan anak muda. “Anak tua” pun sama kayak gitu juga deh. Gue geleng-geleng kepala sambil gantian bergumam: “Dasar anak tua jaman sekarang ada-ada aja!” Misalnya nih, ada shalawat yang dibawain Kiai Kanjeng--yakni kelompok musik yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib--dengan menggunakan lagu Stile Nacht (malam kudus) yang diiringi instrument ala Franz Xaver Gruber dioplos sama Shalawat Badar terus dinamain Shalawat Universal. Memang, shalawat ada tuntunannya di al-Quran. Allah Swt. berfirman (yang artinya):“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(QS al-Ahzab [33]: 56)

Nah, yang jadi masalah adalah kalo dicampur kayak Shalawat Universal, itu nggak boleh. Coz, lagu malam kudus udah khusus produk budaya dari kaum agama lain. Apalagi sampe featuringsama biarawati. Gaswat bener jadinya kan?

Bro, dalam hal beribadah kita kan nggak boleh ikut-ikutan agama lain. Kalo kita baca asbabuun nuzuul alias penyebab turunnya ayat al-Quran—dalam hal ini adalah surat al-Kafirun—ternyata turunnya adalah ketika orang-orang Quraisy meminta Rasulullah saw. untuk mengikuti ibadah mereka, dan mereka pun akan mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw. menolak permintaan mereka. Jadi dengan dalil apapun shalawat yang dioplos dengan tata cara, instrument nada, dan lirik pemujaan yang sama dengan agama lain itu tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan firman Allah Swt. dalam surat al-Kafiruun tersebut.

Selain itu bukankah agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. itu sudah sempurna? Firman Allah Swt. (yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS al-Maaidah [5]: 3)

Umar bin Khaththab r.a berkata, "Dulu kami adalah kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami. Karena itu seorang muslim, tidaklah akan mendapatkan kemuliaan bila ia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya ia lemah, meskipun merasa dirinya kuat; ia fakir, meskipun merasa dirinya kaya”.

Jadi nggak ada kemuliaan tuh dalam shalawat yang sejenis itu. Haram dilakukan. Udah jelas kalo yang haq dan yang batil itu terpisah dan tidak bisa dicampur seenaknya walaupun namanya shalawat. Kalo kita ngikut terus kayak gitu dan serba permisif bisa hancur deh keislaman dan keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikuti mereka”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah mereka Yahudi dan Nasrani yang Rasul maksudkan? Nabi saw menjawab, “Siapa lagi”. (HR Muslim)
Bro en Sis, kalo ada yang beralasan bahwa shalawat seperti itu adalah untuk mempromosikan Islam kepada agama lain, itu juga nggak bisa dibenarkan. Sebab, nggak ada tuntunannya dari Allah Swt. dan RasulNya. Toh kiblat kita pun berbeda dengan mereka. Ngapain juga kita membuat-buat syariat baru untuk membuat orang lain beriman. Nggak boleh sembarang cara. Tapi tetap kudu ngikutin ajaran Islam.
Memang, kita adalah umat terbaik yang diseru untuk menyampaikan yang makruf dan mencegah yang munkar. Tapi sudah jelas seruan-seruan yang kita lakukan haruslah sesuai dengan syariat-syariat Islam. Sebab, kita sudah beriman dan akidah kita adalah akidah Islam. Ok?

Solusi yang gue tawarin
Karena zaman sekarang udah banyak amburadulnya, maka elo harus hati-hati bergaul. Inget nih, hati-hati bukan berarti menutup diri dari pergaulan. Tapi hati-hati adalah benar-benar menyeleksi setiap budaya yang masuk: apakah itu layak diterima atau nggak. Jangan menutup diri terhadap sesuatu yang baik. Elo kudu obyektif. Jangan gara-gara seseorang itu make sorban dan jubah terus pake gelar kiai, terus elo main gampang aja nerima setiap pendapat dia, padahal pendapat tersebut bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Sebaliknya, kalo ada orang yang elo anggap penampilannya biasa-biasa aja tapi ngasih tahu elo tentang kebaikan berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, elo jangan sampe menolaknya. Apalagi sampe elo bilang: “Kamu udah hapal berapa hadits?”. Halah, bukannya nanya hadis itu sahih atau nggak eh malah nanyain jumlah, kan nyeleneh namanya tuh!

Yuk, kita ubah cara pandang kita. Pokoknya kalo sesuatu itu berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, kita kudu terima karena kita adalah muslim. Inget lho, umat terbaik. Bukan umat yang hanya bisa bertaklid pada leluhur seperti orang jahiliyah dan malah menolak syariat Allah dengan alasan ketokohan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS al-Baqarah [2]: 170)

Bro, yuk terus kita sampaikan dakwah Islam dengan cara yang benar dan baik sesuai dengan syariat Islam. Jangan takut untuk menghadapi intimidasi dari orang-orang yang ingin menghancurkan Islam atau dari orang-orang yang bodoh tentang Islam tapi sok tahu. Tugas kita adalah menyampaikan apa yang telah Allah dan RasulNya turunkan. Soal hasil, itu adalah urusan Allah Swt. Kita nggak usah terlalu kecewa kalo nggak berhasil. Yang penting udah berdakwah. Baca dan tadaburi al-Quran, insya Allah iman elo makin kuat deh. Selain itu, tetep terus mengkaji Islam sebaik-baiknya, sedalem-dalemnya dan serajin-rajinnya ya. Jangan lupa juga elo sering-sering baca buletin gaulislam (hehehe.. promosi dah gue), rajin kunjungi juga websitenya:http://gaulislam.com. Gabung juga bareng redaksi gaulislam di facebook (http://facebook.com/gaulislam). Terus, buat kamu yang di daerah Bogor dan sekitarnya, bisa sering-sering juga deh dengerin acara [klinik] gaulislam setiap Rabu pagi di KISI 93.4 FM Bogor. Swit swiw, insya Allah banyak sarana untuk jadi pinter dan nguatin iman kita. Tetap semangat, Bro![ikrar: ikrarestart@gmail.com]

Menjemput Hidayah

Buletin Gaul Islam
21 Januari 2010 - 09:52
gaulislam edisi 117/tahun ke-3 (3 Safar 1431 H/18 Januari 2010)

Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang Islam. Sip deh!

Bro en Sis, ada satu pepatah menarik yang pernah saya dapatkan ketika mengisi salah satu acara bedah buku saya. Pengisi acara yang lain menyampaikan sebuah kata-kata mutiara: “Orang yang terbiasa berada dalam kegelapan, cahaya terang sangat menyilaukan”. Saya catat dalam ingatan saya. Saya tulis agar tak lupa. Pesan ini sangat bermakna bagi saya. Betapa dulu yang pernah saya rasakan, memang berat meninggalkan kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan. Anggapan yang sudah bercokol di benak harus dipaksa berubah bukanlah hal yang mudah. Saya berempati dengan teman-teman yang masih belum mau meninggalkan kebiasaan yang buruk untuk berganti dengan kebiasaan yang baik. Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa diubah.

Oya, sebenarnya “kebiasaan” itu netral lho. Karakter “kebiasaan” itu sulit dimulai, dan sulit juga dihentikan. Beruntung bagi yang sudah melakukan “kebiasaan” baik, akan sulit baginya dipaksa untuk melakukan “kebiasaan” buruk. Tapi perlu kesadaran penuh bagi yang sering melakukan kebiasaan buruk, untuk dipaksa melakukan kebiasaan baik. Ia perlu banyak merenung dan menimbang-nimbang pikir dan rasa.

Ada niat berubah, ada hidayah
Bro en Sis, orang yang selalu berbuat maksiat belum tentu maksiat selamanya. Asalkan dia ingin berubah menjadi baik, ada niat dan usaha untuk mewujudkannya, insya Allah ada jalan untuk menjemput hidayah. Ada kisah menarik yang perlu menjadi inspirasi bagi kita. Kamu tahu Syaikh Fudail bin Iyadh? Bagi yang pernah tahu, beliau adalah salah satu guru Imam asy-Syafii. Tahukah masa lalunya?

Nah, inilah kisahnya: Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan al-Quran yang artinya: “Belumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (QS al-Hadiid [57]: 16)

Ayat tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba Bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, “Oh Tuhan, telah tiba waktuku. Telah tiba waktuku.” Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.
Karena kemalaman di jalan, Bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.

“Ayo kita berangkat sekarang saja,” dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.
Yang lain menjawab, “Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.”
Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata, “Akulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.”(kisahnya dikutip dari Islamia, edisi April-Juni 2005)

Sobat muda muslim, banyak teladan di masa lalu yang bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Tak sedikit sahabat Nabi Muhammad saw. yang awalnya adalah musuhnya dan musuh Islam. Tahu kan Umar bin Khaththab ra? Semasa jahiliyahnya, yakni ketika belum jadi muslim, Umar bin Khaththab adalah halangan bagi dakwah Islam. Selain beliau, yang jadi halangan dakwah saat itu adalah Umar bin Hisyam alias Abu Jahal. Sampai-sampai Rasulullah saw. berdoa memohon kepada Allah agar Islam bisa kokoh dengan salah satu dari dua orang bernama Umar ini. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzii dari Abdullah bin ‘Umar ra dan ath-Thabranii dari Abdullah bin Mas’uud dan Anas bin Malik Radhyillaahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda dalam doanya, “Allahummaa, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khaththab atau dengan Abu Jahal (Umar bin Hisyam).”

Mau tahu kisahnya? Begini riwayat singkatnya: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Anas bin Malik ra. dan Abdullah bin Abbaas ra., bahwasanya di tengah perjalanan mencari mereka, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nahlam al-Adwii, atau seorang laki-laki dari Bani Zuhrah, atau seorang laki-laki dari Bani Makhzum, yang bertanya kepadanya, “Hendak ke mana engkau wahai Umar?” Lantas di jawab oleh Umar dengan geramnya, “Aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek-moyang. Aku ingin membunuhnya!”
Orang tadi lalu bekata kepada Umar, “Demi Allah, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad? Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?”

Umar kemudian menjawab, “Menurut pengamatanku, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini.”
Orang itu lantas menjawab, “Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu!”

Mendengar kabar itu, maka dengan terburu-buru Umar berlalu dan begegas menuju rumah Fathimah binti al-Khaththab, adik perempuannya. Di rumah Fathimah saat itu ada suaminya yaitu Sa’id bin Zaid bin Nufail dan kawan mereka yaitu Khabbaab bin al-Arat ra. Mereka sedang mendengarkan ayat al-Quran yang dibacakan oleh Khabbab yaitu dari surah Thaahaa (20). Ketika Khabbaab mendengar suara kedatangan Umar, dia segera menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan shahifah (lembaran) berisi ayat al-Quran. Namun tatkala mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.

“Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?” tanya Umar ketika sudah masuk rumah. “Hanya sekadar obrolan di antara kami, “ jawab Fathimah dan suaminya. “Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama, “kata Umar lagi. Kemudian Sa’id bin Zaid bin Nufail yang merupakan adik ipar Umar itu berkata, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”

Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan memukul mukanya hingga jatuh tak berkutik lantas menginjak-injaknya keras-keras. Fathimah kemudian mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun Umar memukul Fathimah hingga bibirnya luka dan bercucuran darah.

Demi melihat keadaan adiknya, Umar akhirnya sadar dan timbul rasa iba dalam hatinya. Sementara Fathimah dengan berang berkata kepadanya, “Wahai Umar, benar kami telah memeluk Islam, beriman kepada Allah dan RasulNya. Sekarang kau boleh berbuat apa saja terhadap kami.” Kemudian Fathimah berkata lagi, “Wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Ilaah selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Umar mulai merasa putus asa, dan dia melihat darah yang meleleh dari bibir adiknya. Maka Umar merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Lalu ia berkata, “Serahkan lembar-lembar yang kalian baca itu kepadaku. Aku ingin membaca apa yang telah diajarkan Muhammad!” Tetapi Fathimah menjawab, “Engkau adalah orang yang najis. Shahifah ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!” Maka Umar segera mandi dan setelah itu memegang shahifah tadi dan mulai membaca isinya yaitu surat Thaahaa (20) dari awal dengan membaca, “Bismillaahir rahmaanir rahiim.” Lalu Umar berkata, “Nama-nama yang bagus dan suci.” Kemudian ia melanjutkan pembacaan dari ayat satu hingga berhenti pada firman Allah di ayat 14: Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa’ budni wa aqimish shalaata li dzikrii. Diterjemahkan, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.”

Setelah membaca ayat tersebut, sanubarinya tersentuh dan Umar serta merta sadar bahwa yang telah dibacanya belum pernah terdengar olehnya. Maka tiba-tiba secara drastis suara dan sikapnya berubah. Umar lantas berkata, “Alangkah indah dan mulianya kata-kata ini! Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada saat ini!”

Mendengar perkataan Umar barusan, maka Khabbaab bin al-Arat muncul dari belakang rumah dan berkata, “Terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar doa Rasulullah saw. pada malam Kamis itu jatuh kepada dirimu. Segeralah engkau menghadap beliau, wahai Umar!”

Singkat cerita, Umar bin Khaththab masuk Islam langsung di hadapan Rasulullah saw. Ketika itu, sesampainya Umar di kamar dan bertemu dengan Rasulullah saw., ia disambut oleh beliau dengan cara memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras seraya bersabda, “Apakah engkau tidak mau menghentikan tindakanmu wahai Umar, hingga Allah menurunkan kehinaan dan bencana seperti yang menimpa al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah. Inilah Umar bin al-Khaththab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khaththab.”

Umar kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, aku datang untuk menyatakan iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta apa-apa yang datang dari Allah.” Umar berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.”

Umar bin al-Khaththab ra adalah seseorang yang memiliki watak tempramental dan sulit dihalang-halangi, sehingga dengan dirinya masuk ke dalam Islam sangat mengguncangkan orang-orang musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Sebaliknya, hal ini mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang-orang muslim.

Subhanallah. Tak ada yang mustahil. Siapa pun bisa menjadi baik. Ahli maksiat sekalipun bisa berubah jadi baik, bahkan jadi ulama. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa juga menyaksikan satu per satu kawan kita menjadi baik. Teman sepermainan kita yang lama tak jumpa, ketika bertemu sudah berubah penampilannya. Berubah pula akhlaknya. Dia menemukan kebenaran Islam di tempat lain. Bukan mustahil toh?

Kita yang kini termasuk para pengemban dakwah, bisa jadi bukanlah orang yang baik-baik di masa lalu. Bisa jadi malah penghalang dakwah. Seorang kawan pernah bercerita, bahwa ketika dirinya sekolah di SMA, kepala sekolahnya sangat tidak setuju dengan siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab. Bahkan sempat bersitegang mempertahankan pendapatnya bahwa dirinya memimpin sekolah umum, bukan pesantren. Namun ketika dirinya dipindahkan tugas ke sekolah lain, ternyata ada kabar baik, bahwa kini dirinya sudah mengenakan kerudung. Sudah berbusana muslimah, dan malah baik kepada siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab.

Ya, ini menunjukkan bahwa tak selamanya manusia itu berada dalam maksiat. Tak selamanya terus berbuat dosa. Pasti ada saatnya untuk berbuat baik. Asalkan ada kemauan untuk mengubah, insya Allah akan mendapat hidayah dari Allah Swt. Memang, kalo ngikutin hawa nafsu, rasanya betapa berat meninggalkan maksiat. Namun demikian, bukan berarti harus menyerah, apalagi “kepalang basah”. Tidak. Kesadaran untuk berubah jauh lebih baik dan bisa mengalahkan hawa nafsu. Insya Allah. Percayalah![solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]