Rabu, 12 Februari 2014

GOMBAL WARNING

BERHATI-HATILAH DARI PARA PRIA SERIGALA BERBULU DOMBA (Sebab Mekarmu Hanya Sekali)
“Tiba-tiba lelaki yang ku kenal baik berubah menjadi buas, aku pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianku terenggut.!!!”
Begitu kutipan dan penggalan pengalaman, sebut saja Bunga, yang hancur masa depannya seperti dilansir sebuah harian ibukota. Sedih, pastinya begitu. Betapa tidak, kesucian yang dijaga sejak lama yang hanya akan dipersembahkan kepada lelaki yang sudah sah sebagai suami, kini pecah dalam beberapa saat.
Bunga tak sendiri. Masih banyak Bunga-Bunga lain yang ‘madunya sudah dihisap oleh kumbang jantan’. Ada yang frustasi, tak sedikit pula yang ‘menjual’ diri karena kecewa dengan perlakuan pacar yang tak bertanggung jawab. Seperti yang dialami oleh Kembang (21), sebut saja begitu, seorang mahasiswi di kota kembang yang menjadi pramunikmat di sebuah diskotik. Dara yang berasal dari keluarga berada ini mengaku memberikan kegadisannya kepada lelaki yang ia anggap baik dan berjanji menikahinya. “Karena aku sangat mencintainya, akupun memberikan ‘segalanya’ pada dia, karena janjinya akan menikahiku”, ungkapnya getir.
Tapi apa yang terjadi? Lanjutnya gusar, “Empat tahun hubunganku dengannya sia-sia saja. Apalagi saat kukatakan padanya, bahwa aku tengah ‘berbadan’ dua, dia pun tak peduli bahkan menyuruhku menggugurkannya. Aku pun menurutinya.” Inikah namanya cinta?
Survei Membuktikan. Sebuah penelitian yang sempat menyentak semua kalangan, dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan humaniora (LSC Pusbih). Hasilnya, hampir 97,5% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Yang lebih mengenaskan lagi, ternyata semua responden mengaku melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa paksaan alias dilakukan suka sama suka. Nah lho…! Kita sudah berkali-kali dikejutkan dengan hasil penelitian serupa. Mulai dari penelitian ‘kumpul kebo’ tahun 1984 yang lalu, hingga penelitian sejenis yang banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, membuat kita mengelus dada… betapa rusaknya generasi muda sekarang.
Kenapa Terjadi?                                                   
Seperti seloroh orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini, ‘dari mata turun ke hati, dari hati turun ke celana’ sungguh sangat mengenaskan dan benar-benar terjadi. Isyarat mata yang penuh makna mendapat sambutan hangat, saling sapa dan berbincang, berlanjut hingga hati menjadi ‘klik’. Berpisah membuat makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Di benak yang terbayang hanya si dia, lagi-lagi si dia. Pertemuan pun berulang kembali dalam tahap mengungkap rasa, ‘nembak’, begitu istilah gaul kawula muda sekarang. Bahagia rasanya bagi sang dara karena yang ditunggu tibalah saatnya, diapun mengangguk setuju untuk ‘jalan bareng’ dalam suka dan duka. Ada rindu menggebu bila tak bertemu, ada cinta yang bersemayam dalam dada. Bila bersua ada kasih yang terukir dalam diri untuk pujaan hati…
Sudah bisa ditebak, seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya penuh dosa… pegangan bahkan sampai dengan hal yang belum patut untuk dilakukan seperti pengakuan Bunga dan Kembang tadi. Bisa sudah pacaran, istilah gaul jalan bareng, hampa tanpa pegangan, dan maaf… selanjutnya anda pun sudah bisa menebaknya, karena tak pantas kami ungkapkan.
Islam telah mewanti-wanti agar tidak mendekati zina. Norma yang bersifat pencegahan ini lebih efektif dalam menjaga hal-hal yang tidak baik. Menundukkan pandangan, istilah anak ta’lim ghadul bashar adalah permulaan yang sangat bagus. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. an-Nuur : 31)
Memandang pun dilarang, apalagi lebih dari itu. Apakah ada orang yang berpacaran menjaga pandangan? Apakah ada orang yang berpacaran tanpa jalan bareng dan berdua-duaan di tempat yang sepi? Laki-laki mana yang mau pacaran tanpa pegang sana – pegang sini?
Ketahuilah, jika kalian mencintai laki-laki dengan jalan yang salah, maka akhirnya pun akan salah, menyesal. Laki-laki seperti itu sebenarnya tidak serius dalam menjalin kasih denganmu. Jika memang serius, tentu ia akan masuk lewat pintu resmi sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Tak mengenal pacaran apalagi jalan bareng. Kebanyakan mereka mengaku pacaran hanya untuk having fun, maka jangan heran bila meninggalkanmu begitu saja setelah ‘madu’ dihisap dan mencampakkan dirimu begitu saja.

Laki-laki, apalagi pada zaman sekarang, berpikir seribu kali –sekali lagi-, seribu kali untuk memilih pendamping hidup yang tidak perawan dan mana mau menikah dengan wanita yang sudah ‘turun mesin’, istilah gaul anak lelaki sekarang. Sementara sekarang sudah banyak remaja putri kehilangan, minimal harga diri. Kalaupun keperawanan masih utuh, yang lain? Karena itu, jagalah harga dirimu, karena mekarmu hanya sekali…!!!

by: Tiara Putri Andini (FK UMM 2013)

Jumat, 29 November 2013

Minggu, 21 Juli 2013

menjemput berkahnya Ramadhan

Bismillahirrahanirrahim



Alhamdulillah. Segala Puji Bagi Allah SWT atas segala kenikmatan dan kesempatan, kita masih diijinkan mengirup oksigen-Nya, melihat ciptaan-Nya, mendengar lantunan firman-Nya, melakukan kebaikan, serta merasakan kedamaian dalam lingkup cinta dan kasih sayang-Nya. Fabiayyiaalaairabbikumaa tukadzdzibaan? Sampai detik ini, Allah terus mengalirkan nikmat tak terhingga; nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat kesehatan. Bahkan oksigen yang kita hirup sekarang terhitung sebagai dzikir di bulan Ramadhan ini, apalagi kita bernafas sambil berdzikir. AllahuAkbar.

Pada bulan Ramadhan terkumpul kebaikan-kebaikan, doa diijabah, dan kebaikan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Barangsiapa yang melaksanakan amal sunah di bulan Ramadhan, maka sama seperti melaksanakan kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa yang melaksanakan amal kewajiban, maka sama seperti melaksanakan 70 kali kewajiban di bulan yang lain.
 
 
Pada bulan ini pula diturunkan al-Qur’an al-Karim, berisi firman-firman Allah, sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda mana yang hak dan yang batil. Al-Qur’an al-Karim menjadi syafa’at di akhirat kelak pada yaumul akhir, bahkan surga merindukan orang-orang yang selalu membaca al-Qur’an. Allah juga memberikan satu malam pada bulan Ramadhan yang lebih baik dari seribu bulan. Tentunya hal ini tidak kita sia-siakan, bahkan dari awal Ramadhan hingga akhir, kita bersimpuh dan beribadah kepada Allah untuk mendapatkan satu malam itu.

Adapun tujuan dilaksanakannya puasa itu adalah membentuk hamba-hamba Allah yang bertakwa.  Takwa berarti benar-benar takut kepada Allah, Pencipta kita dan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menahan keinginan diri. Puasa mengajarkan kita bagaimana pengendalian diri. Kita merupakan manusia yang tidak pernah berpuas diri yaitu keinginan yang berlipat ganda, misalnya dapat satu minta dua, dapat dua minta empat, dapat empat minta delapan, dan seterusnya. Orang-orang yang takut kepada Allah dan dapat menahan dirinya, keinginan hawa nafsunya tidak dibiarkan begitu saja, maka surga-lah tempat disisi Allah kelak. Semoga kita semua dapat berkumpul di surga-Nya kelak, aamiin.

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Rida tehadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” QS Al-Bayyinah (98): 7-8.

Hidup kita hanya sementara. Nikmat ramadhan yang dapat kita rasakan sekarang adalah kesempatan bagi kita untuk melakukan amalan-amalan di bulan ramadhan yang penuh berkah ini. Maka, mumpung ajal belum menjemput dan mumpung kita masih merasakan nikmat kesehatan, jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan. Persiapkan tabungan kita untuk menghadap-Nya. Semua harta, jabatan, gelar akan lepas ketika ajal datang. Innalillahi wa innailaihi raji’un. Hanya amalan-lah yang dapat menemani kita menuju Allah. 

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” QS An-Nahl(16): 97

Banyak amalan yang Nabi SAW contohkan dan jika kita melakukannya, insyaAllah kita dapat berkumpul bersama Nabi SAW di akhirat kelak. Nabi SAW tidak pernah meninggalkan shalat berjama’ah, dan tidak pernah meninggalkan dzikir. Dzikir adalah salah satu kiat untuk menyehatkan hati kita.

Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang salat Isya’ dengan berjamaah, seolah-olah ia mengerjakan salat setengah malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh dengan berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat semalam suntuk.” (HR Muslim)

Adapun amalan baik yang dapat di lakukan di bulan ramadhan dan mendapat balasan yang berlipatganda, diantaranya:
a.      

 1. Sedekah


Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, ia berhak atas pahalanya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa.” (Diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi. Hadits ini shahih)

Barangsiapa memberi makanan atau minuman untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa dari harta yang halal, maka para malaikat mendoakannya di jam-jam bulan Ramadhan dan Jibril juga mendoakannya di malam Lailatul Qadar.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Abu Asy-Syaikh)


2. Qiyamul lail


Rasulullah SAW menghidupkan malam-malam Ramadhan. Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau membangunkan keluarganya, semua anak-anak kecil, dan semua orang dewasa yang mampu shalat. (Diriwayatkan Muslim).


3. Membaca al-Quran al-Karim

Rasulullah SAW memperbanyak membaca al-Qur’an al-Karim di bulan Ramadhan dan Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk membacakan al-Qur’an al-Karim kepada beliau di bulan Ramadhan. (Diriwayatkan al-Bukhari).


 4. I’tikaf


Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)



 5. Umrah

“Umrah di bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” (Muttafaq Alaih)

dan masih banyak amalan lainnya yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan. Semoga kita semua dapat menjemput keberkahan yang melimpah di bulan Ramadhan ini. amin #Ramadhan1434h

Penulis:-haqiqie-
Sumber:
Al-Qur’an al-Karim
Minhajul Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
Kuliah Ust. Muhammad Yusuf H. Usman
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi
Picture: saramuslimaa.tumblr.com

Rabu, 17 Juli 2013

My Day (Ramadhan)

Dream of the
Alarm clock
Will I forget?
Rise before the sun
Swallows the summer moon

Listening to my
Stomach
Ensemble of sounds
Launch
Chocolate brownie song

Curious eyes
Islamic Finder
Beating the time
Twilight flashing
In the Redwood trees

YES !  YES !  YES !
Assalamu’alaikum
Shimmering smiles
Arcata D Street
Glows

Tarrawih soon
I win
I’m full

Writer :
Jeanny Dwi Adriyanti
YES Student from Indonesia
Written in Arcata, California


Selasa, 30 April 2013

Open Recruitment FAJAR


siang berganti malam..., 
gelap berganti terang..., 
usang berganti baru membentuk siklus yang takkan berhenti......
begitupun fajar.... 
untuk tetap bersinar perlu melalui siklus itu
let's join US.....
ga ada syarat macem-macem.... cuma ke-IKHLASAN untuk berbagi

makasih.....
ditunggu kontribusinya
pendaftaran sampai tgl 5 Mei 2013^^
_IMSAC_

Senin, 22 April 2013

Mau Ngisi Biodata

Assalamualaikum wr.wb

A: jangan lupa diisi biodatanya yach!
B: biodata apa?
B: emang untuk apa?
A: buat database
B: ooo.., dimana? trus gmn?
A: formatnya udah di upload di gup, trus di kirim ke fki.isma@yahoo.com
B: aq ngak punya FB
A: tenang aja ada disini kok (klik disini -> BIODATA) subject: NAMA_DEPARTEMENT
    semoga dimudahkan sama Allah.
B: ok.., aq isi sekarng dan langsung aq kirim

di kirim ke fki.isma@yahoo.com
Segera dikirim
Wassalamualaikum wr.wb


Minggu, 31 Maret 2013

Pengobatan Holistik Warisan Rasulullah SAW


Seiring dengan berkembangnya dunia medis modern, muncul sebuah wacana tentang efektivitas pengobatan “tradisional”. Tentu, ketika “tradisional” ini muncul maka akan terdapat berbagai definisi. Beberapa kalangan mungkin mengklasifikasikannya sebagai pengobatan “Barat” dan “timur”.

 Seringkali pengklasifikasian itu berdasarkan  ilmiah  tidaknya suatu pengobatan, serta apakah suatu metode pengobatan itu sudah melalui rangkaian uji ilmiah atau tidak. Dalam prakteknya, seringkali pengobatan yang ilmiah diklasifikasikan sebagai pengobatan “barat”, dan pengobatan yang lebih banyak melalui studi empirik maka ia digolongkan sebagai pengobatan “timur”. Namun bagaimanakah posisi kedokteran ala Rasulullah SAW berada?

Adalah sebuah keniscayaan bahwa setidaknya terdapat beberapa hal yang patut dicermati dalam perbandingan praktek kedokteran Rasulullah dengan praktek kedokteran modern ketika kedua  jenis pengobatan yang seakan berbeda itu dibandingkan antara satu dengan lainnya.

Perbedaan pertama muncul dari segi filosofinya. Filsafat pengobatan modern kebanyakan adalah tentang bagaimana mengobati suatu gangguan langsung dari penyebab fisiknya dan akan diobati dengan menggunakan zat-zat kimia yang pada umumnya tidak alami. Maka tidak akan menjadi sesuatu yang aneh apabila terjadi gangguan dalam tubuh, maka akan digunakan berbagai macam upaya, bahkan yang tidak alami, untuk mengobati penyakit tersebut, yang berpotensi mengundang pelbagai permasalahan bagi tubuh nantinya.

Adapun pengobatan ala Rasulullah SAW, maka filosofinya memiliki beberapa perbedaan dengan pengobatan modern yang umumnya ada. Filosofi pengobatan ala Rasulullah berasal dari sebuah premis bahwa sebuah gangguan memiliki asal masalah yang dimensinya lebih daripada sekadar dimensi fisik. Hal ini akan sangat terlihat bahwa pengobatan ala Rasulullah tidak hanya berfokus mengenai bagaimana mengobati gangguan hanya dalam dimensi fisik, namun juga menyelami dimensi psikis seseorang dengan adanya penekanan-penekanan untuk ber-taqarrub ilallah agar psikis merasa tenang.

Walaupun sekilas terlihat bahwa pengobatan ala Rasulullah SAW kuno dan tidak berkhasiat, ada fakta yang menakjubkan bahwa pengobatan ala Rasulullah dapat diterima oleh ilmu pengobatan secara ilmiah dan logika serta dapat dibuktikan dengan prinsip Evidence Based Medicine (EBM), sedangkan ilmu-ilmu seperti ilmu kedokteran belum berkembang pada masa Rasulullah. 

            Salah satu pengobatan kuratif yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW  adalah dengan berbekam. Dalam shahih Bukhari Muslim  dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berbekam dan membayar tukang bekam. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Pengobatan terbaik bagi kamu adalah bekam.”

Ada sebuah penelitian mengeai efektivitas terapi bekam di Jerman yang dilakukan oleh Michalsen A, Bock S, Ludtke R, dkk pada tahun 2009 dengan metode RCT (Randomized Controlled Trial) yang laporannya diterbitkan dalam The Journal of Pain dengan judul “The Effects of Traditional Cupping Therapy”, menunjukkan bahwa teknik penyedotan ekternal yang terutama banyak digunakan di luar AS, efektif untuk mengurangi sementara keluhan rasa sakit dari Sindrom Terowongan Karpal /  Carpal Tunnel Syndrome (CTS).

Dalam prosesnya, peneliti dari rumah sakit Immanuel Berlin tersebut membagi secara acak lima puluh dua pasien CTS ke dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapat perlakuan terapi bekam  basah di atas permukaan otot trapezius (musculus trapezius) kemudian diberikan 5-10 menit tusukan menggunakan lancet steril. Setelah kop bekam diletakkan di atas permukaan kulit lalu dilakukan sebuah vakum parsial menggunakan alat hisap Elektromekanik ataupun manual dengan pompa. Bekam biasanya dilakukan pada wilayah “segitiga bahu ( shoulder triangle)” yang di mana merupakan tempat jaringan ikat di daerah bahu leher. Cara ini diyakini dapat meningkatkan mikrosirkulasi darah sehingga membantu meringankan gejala CTS. Dan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien CTS yang mendapatkan terapi bekam  mengalami penurunan keluhan nyeri dan gejala lainnya yang sangat signifikan.  Posisi anatomis yang dilakukan oleh peneliti ini tidak jauh berbeda dengan posisi anatomis berbekam  Rasulullah SAW.  Anas berkata, “Rasulullah SAW biasa berbekam pada dua pembuluh leher dan bagian atas punggung”.

Salah satu poin lainnya yang patut ditelisik adalah pengobatan ala Rasulullah yang  tidak hanya sebatas tindakan kuratif seperti mengobati penyakit saja, namun juga secara preventif. Adapun Rasulullah SAW menunjukkan tindakan preventif terhadap kondisi sakit melalui segala aktivitasnya, mulai dari cara makan, cara berpakaian, tidur  dan lain-lain. Hal ini salah satunya bisa terlihat dalam bagaimana Rasulullah mencontohkan cara berbaring yang dianjurkan. Dalam Shahihain diriwayatkan Barra’ bin Azib berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila kalian hendak tidur, berwudhuluah seperti wudhu untuk shalat kemudian berbaringlah pada lambung kananmu dan bacalah do’a. Cara tidur  Rasulullah SAW ini memiliki manfaat bagi kesehatan apabila ditinjau dari sisi medis, salah satunya dalam  sistem pencernaan. Tidur dengan posisi berbaring miring ke kanan akan mempercepat pengosongan lambung atau  gastric emptying, sehingga makanan akan cepat sampai ke usus dan dapat segera diabsorpsi. 

Selain itu ada pula hadits yang berbunyi “Makanlah saat lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Hadits tersebut menurut Syaikh Bin Baz merupakan hadits dha’if , maknanya benar akan tetapi sanadnya lemah. Namun begitu terdapat pesan yang terkait dengan nasehat Rasulullah SAW mengenai etika saat makan. Yaitu disarankannya menyisakan 1 per 3 bagian lambung  untuk kosong setelah menghabiskan makanan, karena berlebih-lebihan dalam makan dapat membahayakan tubuh. Perumpamaannya ialah blender atau mixer yang diisi penuh lalu dinyalakan. Lihat apa yang terjadi, bisa dipastikan blender tersebut akan rusak atau bahkan isi dari blender tersebut akan terhambur tidak karuan. Namun lambung bukanlah blender atau  mixer semata, namun juga penghalus dan food processor. Dan bahkan memiliki fungsi fisiologis yang lebih dari itu semua. Sangat rasional bila Rasulullah SAW menyarankan manusia agar tidak berlebih-lebihan dalam makan. 

Praktek kedokteran pada masa Rasulullah SAW tidak terlepas dari aktivitas ibadah umat muslim yang merupakan perintah Allah SWT.  Ibnu Maja dalam Sunnan-nya menceritakan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW melihatku sewaktu aku berbaring menderita penyakit dalam perut. Beliau berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, apakah perutmu sakit (Beliau menyebut istilah penyakit itu dalam bahasa Persia)?’ Saya jawab, ‘Ya, Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Berdirilah dan kerjakan shalat, karena shalat adalah obat.”

Dalam shalat  kita akan membaca ayat-ayat suci alqur’an, atau dalam berjamaah kita akan mendengar bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Bacaan al-Qur’an dapat menenangkan hati dan pikiran. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh dr. Ahmed E. Kadi dan asosiasinya, yang menunjukkan bahwa membaca atau mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an dapat menurunkan tekanan darah, frekuensi detak jantung, dan menyebabkan relaksasi pada otot jantung, hal ini tidak hanya terjadi pada mereka yang muslim arab dan muslim non arab, namun juga pada mereka yang non muslim yang termasuk dalam kriteria inklusi penelitian ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa shalat yang khusyuk merupakan salah satu aktivitas saraf parasimpatik, karena menurunnya tekanan darah, menurunnya frekuensi detak jantung, dan relaksasi otot jantung merupakan perngaruh dari saraf otonom parasimpatik. 

Ada sebuah artikel yang menyebutkan bahwa sesungguhnya penyakit merupakan suatu irama untuk mencapai keseimbangan tubuh atau yang dikenal dengan homeostasis. Secara filosofis, penyakit-penyakit tersebut hadir sebagai obat bagi manusia untuk menyadarkan manusia agar kembali ke jalan yang benar dan sebagai bentuk intropeksi bahwa begitu mudahnya Allah memberikan balasan bagi-orang-orang yang melampaui batas.

Praktek kedokteran Rasulullah SAW tidak hanya melihat pada satu dimensi, yaitu fisik, melainkan juga menilik pada sisi rohani,  yaitu hati yang menurut beliau merupakan penentu datangnya sebuah penyakit dan penentu parah  tidaknya derajat penyakit seseorang. 

Dari buku “Miracle of Endorphin” menyebutkan bahwa hormon adrenalin itu muncul saat ada kebencian di dalam hati. Itulah sebab tabib asal Mesir yang dikirim tuk kaum Rasulullah pada zamannya bergegas pulang setelah 1 tahun ia tidak mendapati satupun kaum Rasulullah yang sakit. Tidak hanya Al-Qur’an, Rasulullah pun mengajarkan umatnya untuk selalu menghadirkan kedamaian dalam hati dan membuang jauh-jauh rasa kebencian dalam kelangsungan hidup di dunia ini. 

Bahwa hati yang damai itu adalah obat kesembuhan bagi segala penyakit. Dan islam itu mengajarkan bahwa kita harus tidak membenci saudara kita, dan itulah yang menyebabkan pengobatan Islam dipandang dan dirasa berbeda dengan pengobatan barat pada abad pertengahan tepatnya pada masa kekhalifahan Abassiyah (Turki Saljuk), di mana metode pengobatan itu tidak hanya merujuk pada problem bagaimana mengobati orang secara fisik, namun bagaimana mengobati orang itu dari dalam, yaitu dari lingkup perasaannya. Pernah ada seorang ilmuwan Islam bernama Ibnu Sina, beliau sangat dikenal akan ilmu kedokterannya. Suatu ketika ia pernah dimintai tolong oleh seseorang untuk menyembuhkan seorang yang sakit parah, kemudian setelah dilakukan pemeriksaan ia berkata, “Aku tidak bisa menyembuhkan orang ini, karena orang ini memiliki begitu banyak kebencian di dalam hatinya”.

Apa yang diyakini oleh Ibnu Sina dalam praktek kedokterannya tidak sedikitpun berbeda dengan apa yang diyakini oleh Rasulullah mengenai asal mula dari suatu penyakit. Seperti diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Rasulullah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila dia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati.

Pada praktek kedokteran Rasulullah SAW, pengobatan dilakukan juga dengan memperhatikan aspek kenyamanan pasien seperti tingkat rasa sakit dalam pengobatan dan aspek psikologis pasien. Sehingga jika kita mengingat kembali praktek kedokteran pada masa Rasulullah SAW yang sangat menjunjung tinggi  nilai-nilai kemanusiaan, akan terasa kontras dengan keadaan sekarang yang dirasa hanya mengedepankan aspek kesehatan jasmani. Terdapat aspek keterbukaan dan juga aspek pendekatan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW di setiap tindakan pengobatan. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam bukunya menuliskan bahwa biasanya Rasulullah SAW menanyakan kepada si sakit apa yang dikeluhkan dan apa yang dirasakan. Beliau juga menanyakan apa yang menjadi keinginannya dan meletakkan tangannya di dahi atau dada orang yang sakit, kemudian memohon kepada Allah bagi kebaikan si sakit lalu memberikan resep obat bagi penyakitnya. Sehingga orang yang sakit akan tersemangati dan optimis untuk sebuah kesembuhan.

Dan kini yang menjadi polemik umum di kalangan muslimin adalah, mengapa praktek  kedokteran Rasulullah ditinggalkan. Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan bagi para ilmuwan kedokteran muslim saat ini, tetapi juga para kaum muslimin pada umumnya yang lebih memilih pengobatan barat yang dipandang memiliki nilai lebih dari segi kemajuan teknologi dan teorinya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hambatan yang ada pada para ilmuwan kedokteran muslim ialah kurangnya referensi yang dapat mengantarkan pada rahasia kedokteran Rasulullah SAW dan juga minimnya minat para ilmuwan kedokteran muslim saat ini dalam membuktikan atau meneliti warisan pada masa Rasulullah itu risan  dari praktek kedokteran Rasulullah itu sendiri. Tidak seharusnya warisan praktek kedokteran Rasulullah SAW itu di hak-miliki oleh ilmuwan barat yang kafir. Tidak mungkin mengutuk takdir masa lalu atas dibakar dan dibuangnya buku-buku karya ilmuwan Islam di Andalusia  ke Laut Hitam. Umat Islam pernah berjaya, dan akan berjaya kembali di masa mendatang.

Jeanny Dwi Adriyanti