Minggu, 11 Januari 2009

BOIKOT PRODUK ISRAEL!!!!


BOIKOT PRODUK ISRAEL!!!!


SAVE PALESTINE




Assalamualaikum wrt wbt..

Pemimpin Hizbullah Syed Hassan Nasrallah meminta agar seluruh muslimin muslimat di dunia ini untuk malafazkan surah Al-Fath ayat 26-27 & surah Yunus ayat 85, 86 dan 88,

Tolong sebarkan, agar Israel & Yahudi laknatullahi alaihim hancur!

Malulah kita kepada Allah jika masih tidak mampu untuk menghulurkan selemah2 bantuan ini kepada saudara seagama kita. Sebarkan. syukran..

Ya Allah!! Sebagaimana Engkau Pernah menghantar burung-burung Ababil untuk menghancurkan tentera bergajah Abrahah, maka kami memohon kepada Mu Ya Allah... Turunkanlah bantuan Mu kali ini kepada orang-orang Islam di Lebanon / Palestin, hancurkanlah rejim zionis & sekutunya. Amieen..

(Lalu bacalah surah Al-Fil / membayangkan kehancuran tentera Yahudi laknatullahi alaihim - dengan Izin Allah)

GO!!!!! DIKLAT FKI IBNU SINA

Wah........
Bentar lagi teman2 FK 07&08

Berkolaborasi mo ngadain gawe ke PANTI ASUHAN lho.........
Ketuanya dari FK 07: CANDRA KARUNIA AKBAR (ANDRA)
Kalo ada yang mo partisipasi boleh kok!!!
CP: Andra FK UMM 07

Minggu, 07 Desember 2008

FKI FK UMM MENGUCAPKAN SELAMAT IDUL ADHA UNTUK SELURUH UMAT ISLAM DI DUNIA.











































“Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu al-Quran yang menjadi pengajaran daripada Tuhan kamu dan menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin yang ada di dalam dada kamu, serta menjadi hidayah (untuk keselamatan) dan sebagai rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (wahai Muhammad): Kedatangan al-Quran itu adalah semata-mata dengan limpah kurnian Allah dan rahmat-Nya, maka dengan isi kandungan al-Quran itulah hendaknya mereka bersukacita (bukan dengan yang lainnya), kerana ia lebih baik daripada apa yang mereka himpunkan (daripada segala perkara yang tidak kekal).” Surah Yunus: Ayat 57-58

Keras, Cerdas dan Ikhlas






Apa kata guru en ortu kita saat ulangan kita jeblok atau karya tulis kita nggak menang di perlombaan? Pasti semua sepakat bilang “Work harder!” Kita kudu kerja lebih keras lagi. Yup, nggak ada cita-cita setinggi apapun bisa kita raih tanpa kerja keras. Nonsense. Setiap keinginan ataupun cita-cita sekecil apapun pasti butuh usaha. Dan itu kita namakan bekerja. Nggak usah pengen jadi Einstein kesebelas, untuk dapat nilai cep? waktu ulangan fisika juga butuh kerja keras.






“Nggak ada yang gratis di dunia ini,” kata para kapitalis. Barangkali kalimat itu terdengar terlalu kejam walau ada benernya. Ya sedikitlah. Seenggaknya untuk meraih sesuatu itu orang perlu bekerja dan bekerja. Jangan membiasakan diri jadi orang malas, menengadahkan tangan dan mengharap belas kasihan dari orang lain. Rasulullah saw. bersabda:“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” (HR Bukhari)






Kita juga boleh girang hati kalo senang bekerja keras, pasalnya Rasulullah saw. sangat cinta pada orang-orang yang giat bekerja. Suatu ketika beliau saw. berjabat tangan dengan Sa’ad bin Mu’adz ra.. Beliau menyentuh permukaan tangan Sa’ad kasar dan bertanya sebabnya. Mu’adz menjawab kalau ia biasa bekerja keras menafkahi keluarganya. Rasulullah saw. kontan berujar, “Ini dua tangan yang dicintai Allah SWT.” Wow!






Orang-orang sukses di dunia ini umumnya adalah orang-orang yang “bandel”. Pantang menyerah dan giat berusaha. Salah satunya Honda, pendiri perusahaan raksasa otomotif dunia. Untuk mencapai tahta keberhasilannya itu Honda telah menempuh jalan panjang untuk mencapai hasil yang kita bisa lihat sekarang ini. Waktu sekolah Honda bukan anak yang menonjol, keluarganya juga miskin. Dalam usahanya mendirikan perusahaan, berkali-kali dia harus menelan pil pahit karena hancurnya pabriknya baik itu karena kebakaran maupun gempa bumi. Tapi dia tidak kenal menyerah dan berusaha terus bekerja tak kenal lelah hingga mencapai keberhasilan dari usahanya.






Rasulullah saw. dan para sahabat pun bekerja keras untuk menegakkan kalimat Allah di atas muka bumi ini. Berjuang tak kenal lelah dan pantang menyerah, walau terkadang bersimbah darah. Hingga akhirnya kemenangan pun teraih.






ooOoo






Kerja keras memang harus, tapi sekedar kerja keras saja tidak cukup. Kita juga dituntut untuk bekerja cerdas. Orang bilang setiap keputusan dan tenaga yang dicurahkan harus tepat guna dan berdaya guna, alias efektif dan efesien. Ambil contoh kasus, ketika menghadapi ujian matematika, maka nggak cukup sekedar menghafal rumus dan turunannya tapi kita juga harus melakukan latihan-latihan praktis dengan rumus-rumus itu. Sebabnya jelas, matematika pelajaran eksakta, bukan hafalan.






Rumus kuno menyebutkan siapa yang kuat itu yang menang. Kenyataannya seringkali yang kuat dilibat oleh yang ‘biasa-biasa’ saja. Sebabnya satu; mereka yang kuat seringkali lupa menggunakan tenaganya dengan tepat.Terjadilah pemborosan sumber daya. Sementara yang kecil karena dijepit oleh keadaan mau nggak mau harus mutar otak untuk menggunakan tenaga? yang ‘ala kadarnya’ itu dengan sebaik-baiknya.






Jepang adalah negara dengan luas lahan yang terbatas. But dengan keterbatasan lahan itu justru mendorong para petani dan ilmuwan pertanian di Jepang berpikir kreatif, efektif dan efesien. Hasil pertanian di sana pun jauh lebih unggul ketimbang Indonesia, misalkan? yang luas tanah pertaniannya sekian puluh kali luas lahan pertanian di Jepang.






Itu juga yang dialami nasib umat Islam yang hampir 1 miliar tapi nggak becus ngancurin penjajah Israel. Sebabnya jelas, kita amal kita kurang keras juga kurang cerdas. Bagaimana tidak cerdas bila peluru dihadapi dengan diplomasi. So, paduan kesungguhan dan kecerdasan adalah kekuatan yang menakjubkan.






ooOoo






Kesungguhan dan kecerdasan insya Allah akan mendatangkan kesuksesan, tapi apakah kesuksesan adalah jaminan akan datangnya kebahagiaan? Nggak juga. Karena nggak semua hal bisa terukur dengan materi dan pujian. Kalau kita hanya berkonsentrasi pada materi dan pujian bisa-bisa kita jadi manusia yang megalomania; haus materi dan pujian. Saat apa yang kita kerjakan nggak mendapatkan balasan materi, atau nggak ada applaus atau lemparan bunga, kita kecewa. Akhirnya kita malas untuk berbuat kebaikan bagi orang lain karena khawatir nggak mendapat balasan setimpal atau perhatian. Lebih parah lagi kita juga nggak mau berbuat kebaikan untuk diri kita sendiri karena merasa nggak ada pengaruhnya buat kehidupan kita. Ya, kita jadi serba berhitung mengharap balasan dari orang lain.






Kenyataannya nggak semua usaha manusia itu seketika mendapat balasan. Dan seandainya semua orang berpikiran begitu - senantiasa berharap balasan materi dan pujian - betapa susahnya hidup di dunia ini. Jangan lupa, manusia juga punya dua macam naluri yang pemenuhannya bukan materi, naluri itu adalah naluri beragama (gharizah tadayyun) dan naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Kalau manusia melulu dipenuhi materi dan pujian, nuraninya bisa garing dan lama kelamaan mati. Karenanya kerja keras dan cerdas saja belum cukup juga, seorang muslim ketika beramal juga harus ikhlas. Menempatkan keridlaan Allah di atas segala-galanya. Dalam belajar, setelah belajar dengan keras dan cerdas, ia juga harus ikhlas. Bahwa belajar itu mengharapkan kebaikan, manfaat ilmu dan ganjaran pahala. Bukan nilai di atas kertas apalagi perhatian dari orang lain. Prestasi orang yang belajar untuk sekedar indeks prestasi hanya akan berhenti pada nilai itu, sementara orang yang ikhlas amalnya menjulang ke langit. Demikian pula amal-amal yang lainnya terasa manis saat ikhlas dijadikan sebagai tumpuan.






Maka jadikan keikhlasan sebagai salah satu kaidah amal perbuatan kita. Dengan begitu kita akan menjadi insan yang utama. Tidak hitung-hitungan, tidak mencari perhatian ataupun pujian. Cukuplah Allah SWT. yang memberikan pujian dan balasan bagi kita. [januar]






diambil dari Majalah PERMATA edisi Juli 2003]

Selasa, 04 November 2008

Laskar Pelangi: Pentingnya pendidikan dan kekuatan sebuah mimpi

Laskar Pelangi: Pentingnya pendidikan dan kekuatan sebuah mimpi

Oleh: Bayu Marthawijaya

Fenomena sukses film Laskar Pelangi yang sanggup bersaing di tengah industri film Indonesia yang selalu memperdagangkan lekuk tubuh perempuan seksi adalah bukti bahwa penonton film Indonesia tidak bodoh bodoh amat dalam mengapresiasikan sebuah karya seni, khususnya film.Beruntung kita masih punya Mira Lesmana dkk dengan gigihnya membangunkan film Indonesia yang sempat mati suri.Karya terakhir mereka Laskar Pelangi mebuktikan kecintaan mereka terhadap film maupun terhadap bangsanya.





Film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata yang konon naskahnya sempat akan di buang ke tong sampah oleh penerbitnya ternyata mampu menginspirasikan banyak orang dan menumbuhkan kesadaran akan maha pentingnya sebuah pendidikan.Bagaimana tidak, sepuluh anggota Laskar Pelangi ( Ikal,Lintang,Mahar A Kiong Sahara,Syahdan,Kucai Borek,Trapani,Harun)yang nota bene anak anak miskin dari Belitong meyakini hanya berbekal pendidikanlah mereka akan meraih mimpi yang kelak akan mengubah seluruh perjalanan hidup mereka menjadi lebih baik. Tidak hanya dari segi akal dan materi semata tapi budi pekerti yang selalu di tekankan dalam sekolah Islam Muhammadiyah.





Andrea Hirata sang kreator Laskar Pelangi,lewat tokoh Ikal, dengan sangat cerdasnya bercerita tentang dirinya dan SD Muhammadiyah yang hanya terdiri 10 siswa dan hampir roboh.Yang tak kalah menarik adalah cerita tentang Ibu guru muda Muslimah dengan ikhlas dan penuh dedikasi tinggi mendidik kesepuluh muridnya dan menyebutnya dengan Laskar Pelangi.Kisah cinta Ikal dengan perempuan keturunan Tionghoa, A Ling adalah bagian cerita yang sayang untuk di lewatkan begitu saja





Ikal yang hanya anak pegawai rendahan di PN Timah Balitong juga bercerita tentang sahabatnya Lintang yang mempunyai kecerdasan di atas rata rata dan terpaksa mengayuh sepeda berkilo kilo untuk ke sekolah kemudian memenangi lomba cerdas cermat hingga melambungkan harga diri SD Muhamadiyah yang di malam hari di pakai kandang kambing sejajar dengan SD yang lain.Lintang yang akhirnya harus megubur impiannya dalam dalam untuk menggapai sekolah lebih tinggi karena bapaknya meninggal dan dalam usia sangat belia menjadi tulang punggung keluarganya menggantikan bapaknya. Lintang adalah potret anak cerdas yang terbuang sia sia....





Sahabat Ikal yang lain adalah Mahar.Sang seniman jenius dengan ide super kreatifnya mampu memutar balikkan keadaan. Dengan imajinasinya yang tinggi dia mampu meciptakan sebuah karya tari Afrika dan memenangi karnaval tujuh belas agustusan.Sesuatu yang langka bagi SD Muhammadiyah.





Membaca novel Laskar Pelangi atau menonton filmnya menggugah kesadaran kita betapa pentingnya pendidikan dan kekuatan mimpi untuk mengejar cita cita.Laskar Pelangi juga menggambarkan potret buram dunia pendidikan kita. Anak anak cerdas dan berbakat seolah tercampakkan begitu saja oleh keangkuhan kapitalisme yang merasuk ke dalam lembaga pendidikan kita.Pendidkan pun menjadi begitu mahalnya.Seolah dunia pendidikan hanya untuk anak yang orang tuanya berkantong tebal.





Beruntung Ikal bernasib baik.Dengan kegigihan dan kerja kerasnya dia mampu menggapai mimpi mimpinya waktu kecil.Roh Laskar Pelangi memberinya energy yang luar biasa ke dalam sendi kehidupnya.Kecerdasan Lintang, dan citra rasa seni Mahar merasuk kedalam urat nadinya. Dan Ikal-pun melanjutkan kuliah di UI kemudian mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi bergensi Universite de Paris, Sorbonne, Perancis. Mimpi adalah sebuah kenyataan dan bukan sesuatu yang mustahil. Maka bermimpilah...





Bagaimana dengan kelanjutan kisah cinta Ikal dengan A Ling? Hanya Tuhan dan Ikal yang tahu. Cinta itu memang misteri tapi kalau bisa jangan hanya lewat mimpi. Semoga Ikal paham benar akan hal yang satu ini....





http://www.eramuslim.net/

Islam Tak Bisa Disentuh

gaulislam edisi 053/tahun ke-2 (27 Syawal 1429 H/27 Oktober 2008)

Hehe… Islam tak bisa disentuh alias untouchable? Ah, jadi inget judul film lawas, The Untouchables (1987) yang dibintangi Sean Connery, Kevin Costner dan Robert De Niro. Film tentang gangster yang merajalela di Chicago tahun 1920-an ini dikemas apik oleh sutradara Brian De Palma--yang juga sukses menggarap Mission: Impossible (1996). Disebut untouchable karena kelompok bandit itu tak pernah bisa tersentuh hukum alias kejahatannya tetap menakutkan masyarakat tanpa bisa dijerat hukum karena lembaga pengadilan kalah pamor dan tentu saja para pengadilnya bisa dengan mudah dijejali duit oleh gerombolan bandit ini.

Nah, yang saya maksud Islam tak bisa disentuh ini adalah seolah Islam tuh nggak bisa disentuh sama umatnya sendiri. Kok bisa sih? Buktinya, banyak kaum muslimin yang nggak kenal dengan ajaran Islam. Malah banyak kaum muslimin yang mengambil ajaran dari Barat. Banyak kaum muslimin yang nggak paham hukum syariat tentang larangan mendekati zina, misalnya. Sebaliknya, banyak kaum muslimin lebih suka mempraktikkan gaya hidup permisif dan hedonis warisan budaya Barat. Wajar kalo seks bebas marak, perjudian bejibun, dan kriminalitas meningkat. Para tokoh cendekiawan muslimnya pun lebih mahir meng-hapal dan mengamalkan pendapat-pendapatnya Voltaire dan Montesque ketimbang hadis-hadis Rasulullah saw. dan pendapat para imam mazhab. Apakah ini salah Islam? Tentu tidak.

Islam nggak salah apa-apa. Bahkan Islam memberikan cahaya terang. Kitanyalah sebagai umatnya yang nggak mau mengenal Islam. Padahal, Islam udah disebarkan sejak lama oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Bahkan udah nyebar sampe ke negeri ini. Namun, Islam hanya sebatas agama dan dikenakan simbol-simbolnya saja. Sementara akidahnya masih bolong-bolong diyakini, syariatnya masih compang-camping nggak karuan.

Bukti nyatanya, banyak kok kaum muslimin yang rajin shalat dan rajin puasa, tapi akidahnya kedodoran karena banyak yang masih percaya dukun dan ilmu pengasihan untuk kelancaran hidupnya. Banyak pula kaum muslimin yang kemana-mana senang mengenakan simbol-simbol Islam yang mudah tampak seperti pake peci, sorban, berkerudung (bukan jilbab), mengenakan baju takwa (baju koko), juga ada yang sarungan., tapi pengamalan syariatnya memprihatinkan. Gimana nggak, simbol Islam dikenakan, tapi judi jalan terus, pacaran hot, bahkan remaja puteri yang mengenakan kerudung tapi ikut larut di arena konser musik, campur-baur dengan lawan jenis dan jejingkrakan sehingga tak ada bedanya dengan mereka yang umbar aurat. Duh, mengenaskan sekali nasib kaum muslimin ini. Islam hanya dijadikan sebagai ibadah ritual saja. Sementara pengamalan syariatnya, pengokohan akidahnya nyaris nggak bisa dipelajari karena kemalasan dari kaum muslimin itu sendiri. Musibah!

Yup, kalo gitu benar banget apa yang dikatakan Muhammad Abduh, “al-Islamu mahjubun bil muslimin – agama Islam terhalangi oleh kaum muslimin.” Betul, cahaya dan keagungan Islam pudar oleh perbuatan umatnya sendiri. Umat Islam menjadi perusak citra Islam. Untuk kalangan seperti ini, bukan salah Islam sehingga menganggap Islam the untouchable, tapi justru merekalah yang tak mau disentuh dan tersentuh dengan nilai dan ajaran Islam. Setuju nggak sih?

Salah paham tentang Islam
Sobat muda muslim, ada lagi penyakit yang menerpa kaum muslimin saat ini, yakni salah paham terhadap ajaran Islam. Intinya, Islam nggak dipahami dengan benar dan baik oleh kaum muslimin. Mengapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, kaum muslimin salah mengambil jalan hidup, bukan Islam yang diambil, tapi ideologi selain Islam. Mereka menganggap bahwa Islam tak bisa menjadi alat perjuangan, sehingga tak perlu dilibatkan mengatur kehidupan. Kedua, kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Ketiga, adanya upaya sistematis mengaburkan pema-haman Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam melalui tokoh-tokoh yang berasal dari kaum muslimin hasil didikan musuh-musuh Islam. Lengkap sudah penderitaan kaum muslimin saat ini. Menyedihkan banget, Bro.

Faktor pertama yang memicu salah paham tentang Islam adalah karena kaum muslimin salah dalam mengambil jalan hidup. Halah, ini sih pastinya bukan cuma salah paham, tapi yang jelas udah salah jalan, karena salah mengambil sumber informasinya. Kayak orang mau bepergian ke suatu tempat, tapi peta jalannya salah. Hmm.. itu sih nyampe kagak, nyasar udah pasti. Tul nggak?

Beberapa bukti atas fakta ini adalah, banyaknya kaum muslimin yang memper-juangkan feminisme, demokrasi, sekularisme, kapitalisme, bahkan sosialisme dengan menganggap bahwa hal itu lebih relevan untuk saat ini. Waduh, celaka banget tuh. Sebab, sejatinya ide-ide itu bertentangan dengan Islam dan bahkan menentang Islam. Itu tahapan idenya. Akibatnya dalam tataran praktik, nggak sedikit kaum muslimin yang bangga menyan-dang istilah “Kiri” (baca: kaum sosialis) hingga akhirnya mereka berjuang di masyarakat dengan cara-cara seperti yang dilakukan kaum sosiali, Berarti ideologinya ya sosialisme-komunisme. Padahal dirinya muslim, lho. Kadang ada yang masih suka shalat juga. Tapi nggak konek antara pikir dan rasanya. Campur aduk antara Islam dan Sosialisme. Gawat!

Oya, nggak sedikit pula dari kaum muslimin yang merasa sudah menjadi manusia seutuhnya ketika memperjuangkan demokrasi dan HAM. Maka, seks bebas tumbuh subur, pergaulan bebas antara laki dan perempuan jadi tradisi, pengingakaran terhadap agama juga marak. Menyedihkan sekali bukan? Inilah buah dari salah mengambil informasi jalan hidup, karena menganggap Islam tak mampu menyelesaikan kehidupan hingga akhirnya memilih kapitalisme dan juga sosialisme. Hmm.. kasihan banget!

Sobat, untuk faktor kedua yang memungkinkan munculnya salah paham terhadap Islam adalah kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Setengah-setengah, gitu lho. Kasarnya sih, apa saja dari Islam yang menurutnya baik dan menyenangkan diambil, sementara yang bikin ribet bagi dirinya ditinggalin jauh-jauh. Ini namanya pilah-pilih sesuka nafsunya. Bukan atas pertimbangan akidah dan syariat Islam. Superkacau banget kan pemahamannya?

Shalat akan dilaksanakan kalo dengan shalat ia merasa tentram dan tenang. Jadi bukan atas pertimbangan hukum syara dan ketataan kepada Allah Swt. dalam melaksanakan shalat, tapi karena shalat membuat dia tenang. Itu sebabnya, ia akan mengambil ajaran Islam tentang shalat. Tapi jika menurut hawa nafsunya ajaran shalat itu bisa mengganggu aktivitasnya berbisnis, maka ia akan tinggalkan shalat itu. Karena menganggap waktu shalat itu mengganggu urusan penting yang dia kerjakan. Daripada memilih menghentikan sementara kepentingan bisnisnya untuk shalat, ia malah memilih kepentingan bisnis dan meninggalkan shalat.

Itu sebabnya, setengah-setengah dalam mempelajari Islam berdampak tidak utuhnya pemahaman tentang Islam. Tanggung, gitu lho. Bukan tak mungkin pula jika akhirnya marak bermunculannya para pelaku malpraktik dalam ajaran Islam. Hukum yang wajib dilakukan malah ditinggalkan, tapi yang sunah dikerjakan seolah menjadi kewajiban. Contohnya, banyak para wanita yang getol shalat sunnah tahajjud, tapi kalo keluar rumah rambutnya dibiarkan bebas tanpa ditutupi kerudung dan bagian tubuhnya dengan sukses dilihat orang lain karena tak menutup aurat dengan sempurna. Piye iki? Harusnya kan yang wajib dilakukan, yang sunnah juga dikerjakan semampunya. Inilah yang disebut malpraktik alias salah prosedur dalam menjalankan syariat Islam, Bro.

Nah, mengenai faktor ketiga yang sangat mungkin memicu terjadinya salah paham terhadap Islam adalah banyaknya cendekiawan muslim yang menyampaikan Islam dengan pemahaman yang keliru. Islam yang disampaikan itu sudah dimodifikasi terlebih dahulu, sesuai selera dan keinginan mereka yang dipesankan dari musuh-musuh Islam. Mungkin saja cendekiawan muslim yang menyebarkan pemahaman Islam yang keliru ini nggak nyadar kalo dirinya diperalat oleh musuh-musuh Islam, atau bisa saja mereka tahu bahwa yang disampaikannya itu keliru tapi karena demi jabatan atau harta berlimpah yang dijanjikan kalangan tertentu yang membenci Islam, akhirnya ya mereka lakukan juga tugas salahnya tersebut.

Ya, betul, bahkan ada cendekiawan muslim yang berusaha keras memperjuangkan sekularisme, getol mendakwahkan demokrasi, nggak lelah terus menyebarkan liberalisme dalam Islam. Apakah mereka ulama? Ya, jika dilihat dari keilmuannya sangat boleh jadi mereka ulama. Tapi seperti kata Rasulullah saw. ulama itu ada dua jenis: ulama yang benar dan baik, tapi juga ada ulama yang jahat dan buruk perbuatan maupun pemikirannya. Waspadalah terhadap tipe jenis ulama yang jahat ini.

Oya, apakah ini salah Islam? Nggak kok. Ini murni salah pelakunya. Entah tanpa disadarinya atau disadarinya dengan sangat. Sebab, yang jelas adalah kesalahan dari mereka yang menyebarkan Islam dengan informasi yang keliru. Akibatnya, tentu banyak kalangan awam dari kaum muslimin yang mengikuti apa yang disampaikan ulama jahat ini dengan alasan hal itu memenuhi selera liberalnya sebagai muslim yang nggak mau terikat ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa agama hanya urusan pribadi dan tentunya negara nggak boleh sama sekali menerapkan aturan negara berdasarkan aturan agama untuk ngurus rakyat. Ya, inilah sekularisme, sobat. Berbahaya!

Ayo bangga menjadi Muslim!
Jangan tuduhkan kesalahan kepada Islam, jika banyak kaum muslimin yang hidupnya setengah Islam dan setengah kufur. Itu karena dirinya telah mengambil ajaran Islam semata yang dia suka sembari mengambil jalan hidup lain untuk yang membuat dia juga merasa nyaman. Pilih-pilih sesuka selera hawa nafsunya. Ini bunglon namanya. Padahal, kalo beriman kepada Allah Swt. ya harus jelas dan sepenuhnya. Nggak boleh nyari aman. Allah Swt. udah ngingetin manusia dalam firmanNya (artinya):

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir kembali). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS al-Hajj [22]: 11)

So, kalo diri kita udah menjadi Muslim, berarti sepenuhnya kita sadar akan peran kita yang sesungguhnya, yakni bukan hanya sekadar melaksanakan ajaran Islam karena kita Muslim, tapi juga menjadi penjaga ajaran Islam dan bahkan menjadi pembela dan pejuang Islam. Itu lebih mantap deh! Sumpah!
Oya, jangan salahkan Islam kalo kita hanya mampu menjadi Muslim yang “apa adanya” karena menganggap Islam nggak bisa disentuh (untouchable) oleh dirinya. Sejatinya itu kesalahan kita karena nggak mau belajar Islam. Berarti kita yang justru nggak mau menyentuh dan disentuh oleh Islam. Padahal, kita wajib bangga menjadi Muslim, karena Islam yang kita peluk adalah agama yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Ok? Allahu’alam. [solihin: osolihin@gaulislam.com]