Selasa, 08 April 2014

PEMILU DI DEPAN MATA, SUDAH MELEK-KAH KITA




Oleh Rizky Dwi Utami dan Tri Novita Wulan Sari
Editor : dr. Yasjudan Rastrama Putra, Rika Haeriyah, S.Ked
Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia.

Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia menjelaskan bahwa memilih merupakan hak warga negara untuk menyalurkan pilihannya dalam pemilu. Namun pada hakikatnya memilih bukan hanya sekadar hak, tetapi bisa menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan oleh warga negara demi terciptanya suatu pemerintahan. Meskipun demikian, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum tahun 2013, masyarakat cenderung untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu tahun 2014. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan sikap menyia-nyiakan hak tersebut akan menghasilkan suatu keburukan atau kebaikan?
 Pada tanggal 9 April 2014 mendatang, bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pesta rakyat terbesar untuk memilih wakil legislatif disusul dengan pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2014-2019. Setiap warga negara Republik Indonesia yang memiliki hak suara (berumur 17 tahun atau sudah/pernah kawin) dapat menggunakan hak suaranya dalam pemilu 2014. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah:

“Pemilihan Umum yang selanjutnya disingkat Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”

Dalam peraturan perundang-undangan, penyaluran suara melalui pemilihan umum adalah hak warga negara. Negara dalam hal ini tidak memaksa warga negara untuk menyalurkan hak pilihnya. Sampai saat ini Indonesia telah menyelenggarakan 10 kali Pemilu secara reguler, yaitu tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, dan 2009 (Soebagio, 2008; Aryanto, 2011). Dunia internasional memuji Pemilu tahun 1999 sebagai pemilu pertama di era reformasi dengan tingkat partisipasi politik 92,7%. Namun, jika dilihat dari aspek partisipasi politik dalam pemilu di Indonesia, Pemilu tahun 1999 merupakan awal dari penurunan tingkat partisipasi politik pemilih atau mulai meningkatnya golongan putih (golput). Golongan putih adalah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan berbagai faktor dan alasan. Golput dipandang sebagai sikap politik rakyat yang tidak percaya lagi kepada pemerintah (Haris, 2004). Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum tahun 2013, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu menurun hingga 20% dalam kurun waktu 10 tahun (1999-2009). Jika penurunan terjadi secara linier, diperkirakan partisipasi masyarakat hanya mencapai sekitar 60% pada 2014 dan kurang dari 50% pada 2019 (Tulung, 2013). Beragam alasan dikemukakan untuk memilih menjadi Golput mulai dari sibuk, tidak ada calon yang dikenal, menganggap semua partai sama saja, sampai menganggap janji-janji yang disampaikan saat kampanye hanya sekedar janji tanpa realisasi. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, sebagai seorang muslim bagaimana kita menyikapi pemilu ini? 

Jumat, 28 Februari 2014

Pacaran Berkedok Komitmen


          
Cinta adalah sesuatu yang sangat sensitif bagi setiap orang di zaman sekarang. Semua pasti akan mengatakan kalau mereka membutuhkan cinta untuk bertahan hidup, minimal mempunyai orang yang dicintai dan mencintai. Dan cintapun tak lepas dengan kehidupan para muda-mudi di zaman ini. Banyak yang rela melakukan apa saja demi cinta, sampai-sampai melanggar aturan Allah dengan mecintai wanita/laki-laki yang bukan mahram atau biasa kita simpulkan dengan yang namanya “pacaran”. Tidak sedikit orang yang berpacaran mengerti hukum pacaran itu sendiri di dalam Islam, namun apa daya hawa nafsu sudah menguasai jiwa dan akal mereka. Hal itu sudah biasa kita temukan di kehidupan nyata, ada trend baru yang baru-baru ini saya temukan, bukan lagi pacaran selayaknya muda-mudi pada umumnya,  atau pacaran via internet/sms lagi tapi “Pacaran Berkedok Komitmen”. Dan mirisnya justru dilakukan oleh orang yang “katanya” mengerti hukum pacaran itu seperti apa bahkan mengerti hukum berkhalwat dengan lawan jenis itu bagaimana. Penasaran kan apa yang dimaksud pacaran yang berkedok komitmen? Atau bagaimana sih pacaran berkedok komitmen itu? Yuuuk kita bahas J
            Kita sudah tau kan pacaran itu seperti apa, jadi kita langsung saja membahas bagaimana pacaran berkedok komitmen itu. Yup, dari kata-katanya saja sudah jelas bahwa pacaran berkedok komitmen itu adalah orang yang saling mencintai tapi karena tau bahwa pacaran itu tidak ada di dalam Islam makanya mereka ganti dengan kata “komitmen” dengan tujuan nantinya bakal menikah atau saling menjaga diri biar gak suka sama orang lain tapi tetap saja jalan bareng, kirim sms perhatian, manggilnya pake panggilan kesayangan dan semacamnya. Lalu kenapa harus ada embel-embel komitmennya? Biar ntar kalau ditanya sama orang pacaran atau nggak, jawabnya “nggak kok, kita Cuma komitmenan aja” H- E-double L-O (re: Hellooowww) semua orang tau kali mana yang pacaran mana yang nggak, mau Cuma komitmenan kek atau Cuma HTSan kek selama dilakukan oleh pasangan yang bukan muhrim tetep aja “HARAM”. Na’udzubillah.
            Apakah sebegitu dahsyatnya cinta itu sampai-sampai kalian wahai wanita tidak bisa berlogika? Coba tanyakan pada dirimu sendiri, yakinkah kau akan berjodoh dengannya? Relakah dirimu terjerumus dalam kenistaan? Senikmat itukah pacaran sampai kau takut dan sedih jika kehilangannya? Jika kau tak bersamanya apakah dunia akan kiamat? Sadarlah, bahwa cinta sejati itu adalah cinta yang dibalut dengan kehalalan yaitu “MENIKAH” bukan dengan pacaran atau komitmen-komitmenan.
            Wahai lelaki, tidakkah kau membayangkan jika saudara perempuanmu dilakukan seperti itu oleh lelaki lain, marahkah kau? Sebegitu yakinnya kah dirimu bahwa kau akan menikahinya? Bagaimana kalau ternyata ada yang lebih baik darinya, tidakkah kau malah lebih memilih yang lebih baik dari wanita yang sedang kau pacari?
Wahai saudaraku, Ingatlah ayat ini!!!
"Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa."  (Qs. Az Zukhruf: 67)
Bertaubatlah, kembalilah kejalan yang lurus lagi selamat. Dengarkan jeritan jiwa sucimu yang masih tersisa, tidakkah kau rindu dengan ketenangan jiwamu? Hanya dengan mengingat Allah saja hatimu menjadi tenteram, bukan dengan mengingat laki-laki atau wanita yang belum halal bagimu. Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemaaf, tinggalkanlah dia, Allah akan menggantimu dengan yang lebih baik.
Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.”
(HR. Ahmad, no. 23074)
Wallahu ta’ala a’lam bisshowab


Malang, 28 Februari 2014

Shafitri F. A

Minggu, 16 Februari 2014

Jangan Seperti Lilin

“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang-orang namun melalaikan dirinya sendiri bagaikan sudut lampu yang menerangi manusia dan membakar dirinya sendiri”

          Mengajarkan kebaikan, mendakwahkan kebenaran dan memerintahkan orang lain menjalankan dienul  Islam adalah perbuatan yang sangat  mulia.  Allah SWT dan Rasulullah sangat senang terhadap orang yang berkemauan serta memiliki kemampuan  untuk melakukan hal tersebut.  Tetapi perbuatan mulia tersebut menjadi kurang bernilai  bahkan menjadi cacat jika yang bersangkutan melupakan diri mereka sendiri.
          Betapa banyak orang tua yang mengajari anaknya untuk berbuat jujur, tetapi dalam waktu yang hampir bersamaan mereka justru berbohong dan menipu orang lain. Betapa banyak orangtua yang melarang anak-anaknya untuk merokok, tetapi justru mereka sendiri yang melakukannya.
          Betapa banyak para guru yang dengan mudahnya mengajari anak didiknya untuk bersikap jujur dan ksatria, tetapi justru mereka yang memberi contoh menyontek pada saat Ujian Nasional.
          Betapa banyak para da’i yang mengajarkan kepada para jamaah untuk menjaga ukhuwah dan menjalin silaturahmi, tapi justru pada diri mereka kita dapati sikap bermusuhan antar sesama dai, saling menghina, saling merendahkan. Betapa banyak para aktivis dakwah yang dengan semangatnya mengajarkan kebaikan kepada calon kader tapi di kehidupan real  mereka tidak memberikan teladan sesuai apa yang dikatakannya.
          Betapa banyak para pemimpin kita yang mengajari sikap jujur, tapi dalam banyak hal mereka justru diam-diam atau bahkan terang-terangan melakukan korupsi.
Astaghfirullahaladzim……
Wahai para orangtua, para guru, dan aktivis dakwah, juga para pemimpin, marilah kita dengar seruan Allah SWT berikut ini:
“Mengapa kamu perintahkan orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri(kewajiban)mu sendiri padahal kamu membaca Al-Kitab(Taurat)? Tidakkah kamu berpikir?”(Al-Baqarah 2:44)
Lalu apakah dengan peringatan diatas kita tidak perlu berbuat apa-apa ketika lingkungan dan masyarakat kita, termasuk keluarga kita melakukan perbuatan menyimpang? Apakah dengan ayat diatas kita akan diam saja dan membiarkan orang lain tenggelam dalam ketidaktahuaannya pada agama?
Islam sangat menghargai orang yang penuh semangat dalam memberi sinar dan penerangan kepada orang lain, tapi alangkah ruginya jika sekadar menjadi jelaga yang mencoreng mukanya sendiri. Ar-Raf’i berkata,” Sesungguhnya kesalahan terbesar adalah mengatur orang sekitarmu dan melalaikan kekacauan yang ada di dalam hatimu.” (Wahyul Qalam)
Semestinya, orang yang ingin melakukan perbaikan pada masyarakatnya terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Sebelum mengajak orang lain  bersegera menjalankan sholat berjama’ah, dia sendiri telah mengambil shaf terdepan. Sebelum mengajak orang lain bersedekah, dia paling awal dalam bersedekah.Sebelum mengajak orang lain menjauhi zina, dia yang ada di garda terdepan dalam menguatkan keimanan saudaranya untuk tetap menjalankan syariatNya.
“Wahai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”(As-Shaf 61: 2-3)




Semoga Allah SWT melindungi kita dari perbuatan dan sikap tercela ini. Semoga kita senantiasa istiqomah yang berarti satunya kata dengan perbuatan. Amiin.


Sumber: Ustadz. Abdurrahman Muhammad|Majalah Hidayatullah edisi September 2013(dengan sedikit perubahan).
By : Afifah Sholiha|201310330311144|magang dept.Syiar

Rabu, 12 Februari 2014

GOMBAL WARNING

BERHATI-HATILAH DARI PARA PRIA SERIGALA BERBULU DOMBA (Sebab Mekarmu Hanya Sekali)
“Tiba-tiba lelaki yang ku kenal baik berubah menjadi buas, aku pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianku terenggut.!!!”
Begitu kutipan dan penggalan pengalaman, sebut saja Bunga, yang hancur masa depannya seperti dilansir sebuah harian ibukota. Sedih, pastinya begitu. Betapa tidak, kesucian yang dijaga sejak lama yang hanya akan dipersembahkan kepada lelaki yang sudah sah sebagai suami, kini pecah dalam beberapa saat.
Bunga tak sendiri. Masih banyak Bunga-Bunga lain yang ‘madunya sudah dihisap oleh kumbang jantan’. Ada yang frustasi, tak sedikit pula yang ‘menjual’ diri karena kecewa dengan perlakuan pacar yang tak bertanggung jawab. Seperti yang dialami oleh Kembang (21), sebut saja begitu, seorang mahasiswi di kota kembang yang menjadi pramunikmat di sebuah diskotik. Dara yang berasal dari keluarga berada ini mengaku memberikan kegadisannya kepada lelaki yang ia anggap baik dan berjanji menikahinya. “Karena aku sangat mencintainya, akupun memberikan ‘segalanya’ pada dia, karena janjinya akan menikahiku”, ungkapnya getir.
Tapi apa yang terjadi? Lanjutnya gusar, “Empat tahun hubunganku dengannya sia-sia saja. Apalagi saat kukatakan padanya, bahwa aku tengah ‘berbadan’ dua, dia pun tak peduli bahkan menyuruhku menggugurkannya. Aku pun menurutinya.” Inikah namanya cinta?
Survei Membuktikan. Sebuah penelitian yang sempat menyentak semua kalangan, dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan humaniora (LSC Pusbih). Hasilnya, hampir 97,5% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Yang lebih mengenaskan lagi, ternyata semua responden mengaku melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa paksaan alias dilakukan suka sama suka. Nah lho…! Kita sudah berkali-kali dikejutkan dengan hasil penelitian serupa. Mulai dari penelitian ‘kumpul kebo’ tahun 1984 yang lalu, hingga penelitian sejenis yang banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, membuat kita mengelus dada… betapa rusaknya generasi muda sekarang.
Kenapa Terjadi?                                                   
Seperti seloroh orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini, ‘dari mata turun ke hati, dari hati turun ke celana’ sungguh sangat mengenaskan dan benar-benar terjadi. Isyarat mata yang penuh makna mendapat sambutan hangat, saling sapa dan berbincang, berlanjut hingga hati menjadi ‘klik’. Berpisah membuat makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Di benak yang terbayang hanya si dia, lagi-lagi si dia. Pertemuan pun berulang kembali dalam tahap mengungkap rasa, ‘nembak’, begitu istilah gaul kawula muda sekarang. Bahagia rasanya bagi sang dara karena yang ditunggu tibalah saatnya, diapun mengangguk setuju untuk ‘jalan bareng’ dalam suka dan duka. Ada rindu menggebu bila tak bertemu, ada cinta yang bersemayam dalam dada. Bila bersua ada kasih yang terukir dalam diri untuk pujaan hati…
Sudah bisa ditebak, seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya penuh dosa… pegangan bahkan sampai dengan hal yang belum patut untuk dilakukan seperti pengakuan Bunga dan Kembang tadi. Bisa sudah pacaran, istilah gaul jalan bareng, hampa tanpa pegangan, dan maaf… selanjutnya anda pun sudah bisa menebaknya, karena tak pantas kami ungkapkan.
Islam telah mewanti-wanti agar tidak mendekati zina. Norma yang bersifat pencegahan ini lebih efektif dalam menjaga hal-hal yang tidak baik. Menundukkan pandangan, istilah anak ta’lim ghadul bashar adalah permulaan yang sangat bagus. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. an-Nuur : 31)
Memandang pun dilarang, apalagi lebih dari itu. Apakah ada orang yang berpacaran menjaga pandangan? Apakah ada orang yang berpacaran tanpa jalan bareng dan berdua-duaan di tempat yang sepi? Laki-laki mana yang mau pacaran tanpa pegang sana – pegang sini?
Ketahuilah, jika kalian mencintai laki-laki dengan jalan yang salah, maka akhirnya pun akan salah, menyesal. Laki-laki seperti itu sebenarnya tidak serius dalam menjalin kasih denganmu. Jika memang serius, tentu ia akan masuk lewat pintu resmi sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Tak mengenal pacaran apalagi jalan bareng. Kebanyakan mereka mengaku pacaran hanya untuk having fun, maka jangan heran bila meninggalkanmu begitu saja setelah ‘madu’ dihisap dan mencampakkan dirimu begitu saja.

Laki-laki, apalagi pada zaman sekarang, berpikir seribu kali –sekali lagi-, seribu kali untuk memilih pendamping hidup yang tidak perawan dan mana mau menikah dengan wanita yang sudah ‘turun mesin’, istilah gaul anak lelaki sekarang. Sementara sekarang sudah banyak remaja putri kehilangan, minimal harga diri. Kalaupun keperawanan masih utuh, yang lain? Karena itu, jagalah harga dirimu, karena mekarmu hanya sekali…!!!

by: Tiara Putri Andini (FK UMM 2013)

Jumat, 29 November 2013

Minggu, 21 Juli 2013

menjemput berkahnya Ramadhan

Bismillahirrahanirrahim



Alhamdulillah. Segala Puji Bagi Allah SWT atas segala kenikmatan dan kesempatan, kita masih diijinkan mengirup oksigen-Nya, melihat ciptaan-Nya, mendengar lantunan firman-Nya, melakukan kebaikan, serta merasakan kedamaian dalam lingkup cinta dan kasih sayang-Nya. Fabiayyiaalaairabbikumaa tukadzdzibaan? Sampai detik ini, Allah terus mengalirkan nikmat tak terhingga; nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat kesehatan. Bahkan oksigen yang kita hirup sekarang terhitung sebagai dzikir di bulan Ramadhan ini, apalagi kita bernafas sambil berdzikir. AllahuAkbar.

Pada bulan Ramadhan terkumpul kebaikan-kebaikan, doa diijabah, dan kebaikan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Barangsiapa yang melaksanakan amal sunah di bulan Ramadhan, maka sama seperti melaksanakan kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa yang melaksanakan amal kewajiban, maka sama seperti melaksanakan 70 kali kewajiban di bulan yang lain.
 
 
Pada bulan ini pula diturunkan al-Qur’an al-Karim, berisi firman-firman Allah, sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda mana yang hak dan yang batil. Al-Qur’an al-Karim menjadi syafa’at di akhirat kelak pada yaumul akhir, bahkan surga merindukan orang-orang yang selalu membaca al-Qur’an. Allah juga memberikan satu malam pada bulan Ramadhan yang lebih baik dari seribu bulan. Tentunya hal ini tidak kita sia-siakan, bahkan dari awal Ramadhan hingga akhir, kita bersimpuh dan beribadah kepada Allah untuk mendapatkan satu malam itu.

Adapun tujuan dilaksanakannya puasa itu adalah membentuk hamba-hamba Allah yang bertakwa.  Takwa berarti benar-benar takut kepada Allah, Pencipta kita dan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menahan keinginan diri. Puasa mengajarkan kita bagaimana pengendalian diri. Kita merupakan manusia yang tidak pernah berpuas diri yaitu keinginan yang berlipat ganda, misalnya dapat satu minta dua, dapat dua minta empat, dapat empat minta delapan, dan seterusnya. Orang-orang yang takut kepada Allah dan dapat menahan dirinya, keinginan hawa nafsunya tidak dibiarkan begitu saja, maka surga-lah tempat disisi Allah kelak. Semoga kita semua dapat berkumpul di surga-Nya kelak, aamiin.

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Rida tehadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” QS Al-Bayyinah (98): 7-8.

Hidup kita hanya sementara. Nikmat ramadhan yang dapat kita rasakan sekarang adalah kesempatan bagi kita untuk melakukan amalan-amalan di bulan ramadhan yang penuh berkah ini. Maka, mumpung ajal belum menjemput dan mumpung kita masih merasakan nikmat kesehatan, jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan. Persiapkan tabungan kita untuk menghadap-Nya. Semua harta, jabatan, gelar akan lepas ketika ajal datang. Innalillahi wa innailaihi raji’un. Hanya amalan-lah yang dapat menemani kita menuju Allah. 

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” QS An-Nahl(16): 97

Banyak amalan yang Nabi SAW contohkan dan jika kita melakukannya, insyaAllah kita dapat berkumpul bersama Nabi SAW di akhirat kelak. Nabi SAW tidak pernah meninggalkan shalat berjama’ah, dan tidak pernah meninggalkan dzikir. Dzikir adalah salah satu kiat untuk menyehatkan hati kita.

Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang salat Isya’ dengan berjamaah, seolah-olah ia mengerjakan salat setengah malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh dengan berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat semalam suntuk.” (HR Muslim)

Adapun amalan baik yang dapat di lakukan di bulan ramadhan dan mendapat balasan yang berlipatganda, diantaranya:
a.      

 1. Sedekah


Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, ia berhak atas pahalanya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa.” (Diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi. Hadits ini shahih)

Barangsiapa memberi makanan atau minuman untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa dari harta yang halal, maka para malaikat mendoakannya di jam-jam bulan Ramadhan dan Jibril juga mendoakannya di malam Lailatul Qadar.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Abu Asy-Syaikh)


2. Qiyamul lail


Rasulullah SAW menghidupkan malam-malam Ramadhan. Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau membangunkan keluarganya, semua anak-anak kecil, dan semua orang dewasa yang mampu shalat. (Diriwayatkan Muslim).


3. Membaca al-Quran al-Karim

Rasulullah SAW memperbanyak membaca al-Qur’an al-Karim di bulan Ramadhan dan Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk membacakan al-Qur’an al-Karim kepada beliau di bulan Ramadhan. (Diriwayatkan al-Bukhari).


 4. I’tikaf


Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)



 5. Umrah

“Umrah di bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” (Muttafaq Alaih)

dan masih banyak amalan lainnya yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan. Semoga kita semua dapat menjemput keberkahan yang melimpah di bulan Ramadhan ini. amin #Ramadhan1434h

Penulis:-haqiqie-
Sumber:
Al-Qur’an al-Karim
Minhajul Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
Kuliah Ust. Muhammad Yusuf H. Usman
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi
Picture: saramuslimaa.tumblr.com

Rabu, 17 Juli 2013

My Day (Ramadhan)

Dream of the
Alarm clock
Will I forget?
Rise before the sun
Swallows the summer moon

Listening to my
Stomach
Ensemble of sounds
Launch
Chocolate brownie song

Curious eyes
Islamic Finder
Beating the time
Twilight flashing
In the Redwood trees

YES !  YES !  YES !
Assalamu’alaikum
Shimmering smiles
Arcata D Street
Glows

Tarrawih soon
I win
I’m full

Writer :
Jeanny Dwi Adriyanti
YES Student from Indonesia
Written in Arcata, California