Jumat, 19 Desember 2014

Adab dalam berbicara


Pada kehidupan sehari-hari, berbicara adalah slalah satu cara yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama. Berbicara bisa mencakup banyak hal seperti beramah tamah, berdiskusi dan bahkan berdebat akan suatu hal. Teringat akan salah satu peribahasa yang mengatakan bahwa ujung lidah lebih tajam bila dibandingkan dengan ujung pedang. Seseorang bisa dengan tanpa sengaja atau malahan bisa juga disengaja untuk mengucapkan kata-kata yang bisa melukai orang lain. Bila kita berkaca pada apa yang terjadi sekarang ini, banyak kasus pembunuhan yang berawal dari rasa tersinggung. Sehingga, marilah kita menjaga lisan kita agar senantiasa mengucapkan kata-kata yang baik atau tetap menjaganya diam. Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan :


Kamis, 13 November 2014

Qailulah dan Bangun Sebelum Fajar




“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebahagian dari karunia Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar "[Qs. Ar-rum: 23]

Qailulah
Dalam ayat diatas terdapat dua waktu untuk tidur yang disebutkan, yaitu malam dan siang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidur siang hari juga tidak kalah pentingnya dengan tidur pada malam hari. Ada apa sebenarnya dengan tidur siang hari?
Tidur sejenak di waktu Siang (Qailulah) adalah satu hal yang dilakukan dan dianjaurkan Rasulullah untuk umatnya. Qailulah merupakan bentuk istirahat bagi tubuh yang sangat bermanfaat. Selain menjamin kecukupan istirahat bagi tubuh, tidur sejenak di waktu siang juga dapat membuat tidur lebih nyenyak di waktu malam.

Tidur siang bisa langsung meningkatkan kewaspadaan selepas jam tidur, atau beberapa saat kemudian di hari lain. Tidur siang selama 20-40 menit dapat membantu meningkatkan mood, kewaspadaan dan performansi. Hal ini dibuktikan oleh para peneliti NASA yang menyarankan pilot pesawat militer dan astronotnya tidur siang selama 40 menit. Hasilnya performa awak meningkat jadi 34 persen, sementara kewaspadaan menjadi 100 persen. Tidur siang juga memiliki efek positif pada psikologi, yaitu memberi rasa relaks untuk menyegarkan pikiran. Pada buku “Sleeps and Alertness : Chronological, Behavioral and medical Aspect of Napping ” karangan David F Dinges and Roger J Broughton menyatakan bahwa jika seseorang secara rutin tidur 30 menit pada waktu siang hari maka mempunyai resiko mengidap sakit jantung 30% lebih rendah daripada mereka yang tidak melakukannya.

Dengan melaksanakan Qailulah, akan memudahkan kita untuk bangun malam, ber-qiamulail, dan bangun sebelum fajar pada keesokan harinya. Namun jika karena aktifitas kita yang padat maka tidak sempat melakukan Qailulah, maka dengan beristirahat saja sudah cukup menurut pendapat beberapa ulama. 

Kebiasaan Tidur Rasulullah SAW
Lalu bagaimana dengan kebiasaan tidur Rasulullah? Rasulullah terbiasa tidur miring ke kanan dengan kedua betis sedikit dilipat, tangan kanannya berada di bawah pipi, serta wajahnya menghadap Ka’bah. Posisi tidur seperti ini seuai dengan posisi janin. Posisi tidur seperti inilah yang biasa dipraktikkan oleh seseorang yang berada dalam kondisi jiwa yang stabil. Anatomi paru- paru kiri yang lebih kecil membuat jantung lebih sedikit menahan beban ketika tidur miring ke kanan. Berbagia percobaan yang telah dilakukan olehh Galteh dan Butseh menunjukkan bawhwa berpindahnya makanan dari lambung ke usus dapat dilakukan dakam waktu 2,5—4,5 jam jika seseorang tidur dengan posisi miring ke kanan. Jangka waktu ini tidak dapat dicapai oleh seseorang yang tidur dengan posisi miring ke kiri karena waktu yang dibutuhkan adalah 5—7 jam.
Terdapat sebuah hadist sahis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia mengatakan bahwa pada suatu ketika Rasulullah SAW melihat seseorang tidur dengan posisi telungkup. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, ini adalah tidur yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya”.
Saat Seseorang tidur telungkup, seperti yang dikatakan oleh dr. Zhafir al-Athar, ia akan merasakan sesak napas selama beberapa saat sebab besarnya beban punggung menghalangi otot dada untuk berkontraks-relaksasi saat mengisap dan mengeluarkan napas. Posisi ini juga mengakibatkan tulang tengkuk dan tulang leher tertekuk. Seorang peneliti dari Australia mengemukakan bahwa intensitas kematian mendadak pada anak mencapai tiga kali lipat lebih banyak saat mereka tidur telungkup dibandingkan tidur dengan posisi miring ke salah satu sisi. Majalah Times juga memuat hasil penelitian yang sama, intesitas kematian mendadak yang dialami oleh anak-anak yang tidur telungkup pun semakin meningkat.


Bangun Sebelum Fajar

Allah SWT berfirman, “…dan (laksanakan pula solat) subuh. Sungguh, solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” QS al-Isra’:78.

Al Quran menganjurkan pada setiap muslim untuk tidur lebih awal dan bangun sejak fajar. Di dalam sebuah hadist sahih Rasulullah SAW bersabda, “Umatku ini diberkati ketika bangun pagi-pagi”. (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausat). Di dalam riwayat lain beliau bersabda, “Dua rakaat subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR. Muslim). Manfaat yang diperoleh seeorang jika membiasakan diri bangun pagi adalah saat pagi kadar gas ozon dalam udara pagi mencapai titik yang paling tinggi. Kadar ini berkurang secara berangsur-angsur hingga hilang sama sekali begitu matahari terbit. Gas ini dapat lebih mengaktifkan kerja otak dan otot tubuh. Karena itu, seseorang akan mencapai puncak keaktifan pikiran di waktu pagi. Saat menghirup udara pagi, seseorang akan merasakan kenikmatan dan kegembiraan yang tidak bisa dibandingkan dengan waktu siang maupun malam.
               
Dalam memotivasi kaum muslimin untuk bangun sebelum fajar dan mengerjakan qiyamullail, Allah SWT berfirman,
“Sungguh, bangun malam itu lebh kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.” (QS Al-Muzammil : 6)

Begitulah salah satu cara Allah mencintai kita. Dia memberikan petunjuk sesuai fitrah manusia. Oleh karena itu, dengan melaksanakan segala perintah Allah dan meneladani gaya hidup Rasulullah, insya Allah, seorang muslim mampu menjadi manusia yang unggul dan bermanfaat bagi sesamanya.

Wallahua’lam bishawab

Senin, 03 November 2014

Menjadi Generasi Muda yang Bermakna



Sebagai seorang muslim utamanya muslim generasi muda, kalimat bercita-cita dan berkarya menjadi begitu bermakna. Setiap orangpun pasti juga mempunyai cita-cita untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka, kemudian tekad yang kuat untuk berkarya membangun negeri menjadi lebih baik, dewasa ini generasi muda menjadi sosok yang begitu disoroti terkait peranannya dalam memajukan suatu bangsa dan negara.  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu,

"Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya". (HR. At-Tirmizi).

 Kemudian hadist kedua Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ 

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu."

Berdasarkan dua buah hadist di atas, masa muda menjadi masa yang begitu penting dan tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Hal ini dikarenakan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua umurnya walaupun para orang tua ini melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, hanya saja faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat mereka tidak mampu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.
Pada zaman Rasullullah SAW para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka.
Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.
Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka kabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”
            Beranilah bercita-cita setinggi mungkin kemudian bulatkan tekad untuk mewujudkannya. Bercita-citalah untuk kemaslahatan umat dan menjadi pemuda muslim yang kreatif dan inovatif. :)





Selasa, 08 April 2014

PEMILU DI DEPAN MATA, SUDAH MELEK-KAH KITA




Oleh Rizky Dwi Utami dan Tri Novita Wulan Sari
Editor : dr. Yasjudan Rastrama Putra, Rika Haeriyah, S.Ked
Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia.

Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia menjelaskan bahwa memilih merupakan hak warga negara untuk menyalurkan pilihannya dalam pemilu. Namun pada hakikatnya memilih bukan hanya sekadar hak, tetapi bisa menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan oleh warga negara demi terciptanya suatu pemerintahan. Meskipun demikian, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum tahun 2013, masyarakat cenderung untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu tahun 2014. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan sikap menyia-nyiakan hak tersebut akan menghasilkan suatu keburukan atau kebaikan?
 Pada tanggal 9 April 2014 mendatang, bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pesta rakyat terbesar untuk memilih wakil legislatif disusul dengan pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2014-2019. Setiap warga negara Republik Indonesia yang memiliki hak suara (berumur 17 tahun atau sudah/pernah kawin) dapat menggunakan hak suaranya dalam pemilu 2014. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah:

“Pemilihan Umum yang selanjutnya disingkat Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”

Dalam peraturan perundang-undangan, penyaluran suara melalui pemilihan umum adalah hak warga negara. Negara dalam hal ini tidak memaksa warga negara untuk menyalurkan hak pilihnya. Sampai saat ini Indonesia telah menyelenggarakan 10 kali Pemilu secara reguler, yaitu tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, dan 2009 (Soebagio, 2008; Aryanto, 2011). Dunia internasional memuji Pemilu tahun 1999 sebagai pemilu pertama di era reformasi dengan tingkat partisipasi politik 92,7%. Namun, jika dilihat dari aspek partisipasi politik dalam pemilu di Indonesia, Pemilu tahun 1999 merupakan awal dari penurunan tingkat partisipasi politik pemilih atau mulai meningkatnya golongan putih (golput). Golongan putih adalah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan berbagai faktor dan alasan. Golput dipandang sebagai sikap politik rakyat yang tidak percaya lagi kepada pemerintah (Haris, 2004). Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum tahun 2013, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu menurun hingga 20% dalam kurun waktu 10 tahun (1999-2009). Jika penurunan terjadi secara linier, diperkirakan partisipasi masyarakat hanya mencapai sekitar 60% pada 2014 dan kurang dari 50% pada 2019 (Tulung, 2013). Beragam alasan dikemukakan untuk memilih menjadi Golput mulai dari sibuk, tidak ada calon yang dikenal, menganggap semua partai sama saja, sampai menganggap janji-janji yang disampaikan saat kampanye hanya sekedar janji tanpa realisasi. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, sebagai seorang muslim bagaimana kita menyikapi pemilu ini? 

Jumat, 28 Februari 2014

Pacaran Berkedok Komitmen


          
Cinta adalah sesuatu yang sangat sensitif bagi setiap orang di zaman sekarang. Semua pasti akan mengatakan kalau mereka membutuhkan cinta untuk bertahan hidup, minimal mempunyai orang yang dicintai dan mencintai. Dan cintapun tak lepas dengan kehidupan para muda-mudi di zaman ini. Banyak yang rela melakukan apa saja demi cinta, sampai-sampai melanggar aturan Allah dengan mecintai wanita/laki-laki yang bukan mahram atau biasa kita simpulkan dengan yang namanya “pacaran”. Tidak sedikit orang yang berpacaran mengerti hukum pacaran itu sendiri di dalam Islam, namun apa daya hawa nafsu sudah menguasai jiwa dan akal mereka. Hal itu sudah biasa kita temukan di kehidupan nyata, ada trend baru yang baru-baru ini saya temukan, bukan lagi pacaran selayaknya muda-mudi pada umumnya,  atau pacaran via internet/sms lagi tapi “Pacaran Berkedok Komitmen”. Dan mirisnya justru dilakukan oleh orang yang “katanya” mengerti hukum pacaran itu seperti apa bahkan mengerti hukum berkhalwat dengan lawan jenis itu bagaimana. Penasaran kan apa yang dimaksud pacaran yang berkedok komitmen? Atau bagaimana sih pacaran berkedok komitmen itu? Yuuuk kita bahas J
            Kita sudah tau kan pacaran itu seperti apa, jadi kita langsung saja membahas bagaimana pacaran berkedok komitmen itu. Yup, dari kata-katanya saja sudah jelas bahwa pacaran berkedok komitmen itu adalah orang yang saling mencintai tapi karena tau bahwa pacaran itu tidak ada di dalam Islam makanya mereka ganti dengan kata “komitmen” dengan tujuan nantinya bakal menikah atau saling menjaga diri biar gak suka sama orang lain tapi tetap saja jalan bareng, kirim sms perhatian, manggilnya pake panggilan kesayangan dan semacamnya. Lalu kenapa harus ada embel-embel komitmennya? Biar ntar kalau ditanya sama orang pacaran atau nggak, jawabnya “nggak kok, kita Cuma komitmenan aja” H- E-double L-O (re: Hellooowww) semua orang tau kali mana yang pacaran mana yang nggak, mau Cuma komitmenan kek atau Cuma HTSan kek selama dilakukan oleh pasangan yang bukan muhrim tetep aja “HARAM”. Na’udzubillah.
            Apakah sebegitu dahsyatnya cinta itu sampai-sampai kalian wahai wanita tidak bisa berlogika? Coba tanyakan pada dirimu sendiri, yakinkah kau akan berjodoh dengannya? Relakah dirimu terjerumus dalam kenistaan? Senikmat itukah pacaran sampai kau takut dan sedih jika kehilangannya? Jika kau tak bersamanya apakah dunia akan kiamat? Sadarlah, bahwa cinta sejati itu adalah cinta yang dibalut dengan kehalalan yaitu “MENIKAH” bukan dengan pacaran atau komitmen-komitmenan.
            Wahai lelaki, tidakkah kau membayangkan jika saudara perempuanmu dilakukan seperti itu oleh lelaki lain, marahkah kau? Sebegitu yakinnya kah dirimu bahwa kau akan menikahinya? Bagaimana kalau ternyata ada yang lebih baik darinya, tidakkah kau malah lebih memilih yang lebih baik dari wanita yang sedang kau pacari?
Wahai saudaraku, Ingatlah ayat ini!!!
"Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa."  (Qs. Az Zukhruf: 67)
Bertaubatlah, kembalilah kejalan yang lurus lagi selamat. Dengarkan jeritan jiwa sucimu yang masih tersisa, tidakkah kau rindu dengan ketenangan jiwamu? Hanya dengan mengingat Allah saja hatimu menjadi tenteram, bukan dengan mengingat laki-laki atau wanita yang belum halal bagimu. Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemaaf, tinggalkanlah dia, Allah akan menggantimu dengan yang lebih baik.
Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.”
(HR. Ahmad, no. 23074)
Wallahu ta’ala a’lam bisshowab


Malang, 28 Februari 2014

Shafitri F. A

Minggu, 16 Februari 2014

Jangan Seperti Lilin

“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang-orang namun melalaikan dirinya sendiri bagaikan sudut lampu yang menerangi manusia dan membakar dirinya sendiri”

          Mengajarkan kebaikan, mendakwahkan kebenaran dan memerintahkan orang lain menjalankan dienul  Islam adalah perbuatan yang sangat  mulia.  Allah SWT dan Rasulullah sangat senang terhadap orang yang berkemauan serta memiliki kemampuan  untuk melakukan hal tersebut.  Tetapi perbuatan mulia tersebut menjadi kurang bernilai  bahkan menjadi cacat jika yang bersangkutan melupakan diri mereka sendiri.
          Betapa banyak orang tua yang mengajari anaknya untuk berbuat jujur, tetapi dalam waktu yang hampir bersamaan mereka justru berbohong dan menipu orang lain. Betapa banyak orangtua yang melarang anak-anaknya untuk merokok, tetapi justru mereka sendiri yang melakukannya.
          Betapa banyak para guru yang dengan mudahnya mengajari anak didiknya untuk bersikap jujur dan ksatria, tetapi justru mereka yang memberi contoh menyontek pada saat Ujian Nasional.
          Betapa banyak para da’i yang mengajarkan kepada para jamaah untuk menjaga ukhuwah dan menjalin silaturahmi, tapi justru pada diri mereka kita dapati sikap bermusuhan antar sesama dai, saling menghina, saling merendahkan. Betapa banyak para aktivis dakwah yang dengan semangatnya mengajarkan kebaikan kepada calon kader tapi di kehidupan real  mereka tidak memberikan teladan sesuai apa yang dikatakannya.
          Betapa banyak para pemimpin kita yang mengajari sikap jujur, tapi dalam banyak hal mereka justru diam-diam atau bahkan terang-terangan melakukan korupsi.
Astaghfirullahaladzim……
Wahai para orangtua, para guru, dan aktivis dakwah, juga para pemimpin, marilah kita dengar seruan Allah SWT berikut ini:
“Mengapa kamu perintahkan orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri(kewajiban)mu sendiri padahal kamu membaca Al-Kitab(Taurat)? Tidakkah kamu berpikir?”(Al-Baqarah 2:44)
Lalu apakah dengan peringatan diatas kita tidak perlu berbuat apa-apa ketika lingkungan dan masyarakat kita, termasuk keluarga kita melakukan perbuatan menyimpang? Apakah dengan ayat diatas kita akan diam saja dan membiarkan orang lain tenggelam dalam ketidaktahuaannya pada agama?
Islam sangat menghargai orang yang penuh semangat dalam memberi sinar dan penerangan kepada orang lain, tapi alangkah ruginya jika sekadar menjadi jelaga yang mencoreng mukanya sendiri. Ar-Raf’i berkata,” Sesungguhnya kesalahan terbesar adalah mengatur orang sekitarmu dan melalaikan kekacauan yang ada di dalam hatimu.” (Wahyul Qalam)
Semestinya, orang yang ingin melakukan perbaikan pada masyarakatnya terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Sebelum mengajak orang lain  bersegera menjalankan sholat berjama’ah, dia sendiri telah mengambil shaf terdepan. Sebelum mengajak orang lain bersedekah, dia paling awal dalam bersedekah.Sebelum mengajak orang lain menjauhi zina, dia yang ada di garda terdepan dalam menguatkan keimanan saudaranya untuk tetap menjalankan syariatNya.
“Wahai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”(As-Shaf 61: 2-3)




Semoga Allah SWT melindungi kita dari perbuatan dan sikap tercela ini. Semoga kita senantiasa istiqomah yang berarti satunya kata dengan perbuatan. Amiin.


Sumber: Ustadz. Abdurrahman Muhammad|Majalah Hidayatullah edisi September 2013(dengan sedikit perubahan).
By : Afifah Sholiha|201310330311144|magang dept.Syiar

Rabu, 12 Februari 2014

GOMBAL WARNING

BERHATI-HATILAH DARI PARA PRIA SERIGALA BERBULU DOMBA (Sebab Mekarmu Hanya Sekali)
“Tiba-tiba lelaki yang ku kenal baik berubah menjadi buas, aku pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianku terenggut.!!!”
Begitu kutipan dan penggalan pengalaman, sebut saja Bunga, yang hancur masa depannya seperti dilansir sebuah harian ibukota. Sedih, pastinya begitu. Betapa tidak, kesucian yang dijaga sejak lama yang hanya akan dipersembahkan kepada lelaki yang sudah sah sebagai suami, kini pecah dalam beberapa saat.
Bunga tak sendiri. Masih banyak Bunga-Bunga lain yang ‘madunya sudah dihisap oleh kumbang jantan’. Ada yang frustasi, tak sedikit pula yang ‘menjual’ diri karena kecewa dengan perlakuan pacar yang tak bertanggung jawab. Seperti yang dialami oleh Kembang (21), sebut saja begitu, seorang mahasiswi di kota kembang yang menjadi pramunikmat di sebuah diskotik. Dara yang berasal dari keluarga berada ini mengaku memberikan kegadisannya kepada lelaki yang ia anggap baik dan berjanji menikahinya. “Karena aku sangat mencintainya, akupun memberikan ‘segalanya’ pada dia, karena janjinya akan menikahiku”, ungkapnya getir.
Tapi apa yang terjadi? Lanjutnya gusar, “Empat tahun hubunganku dengannya sia-sia saja. Apalagi saat kukatakan padanya, bahwa aku tengah ‘berbadan’ dua, dia pun tak peduli bahkan menyuruhku menggugurkannya. Aku pun menurutinya.” Inikah namanya cinta?
Survei Membuktikan. Sebuah penelitian yang sempat menyentak semua kalangan, dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan humaniora (LSC Pusbih). Hasilnya, hampir 97,5% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Yang lebih mengenaskan lagi, ternyata semua responden mengaku melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa paksaan alias dilakukan suka sama suka. Nah lho…! Kita sudah berkali-kali dikejutkan dengan hasil penelitian serupa. Mulai dari penelitian ‘kumpul kebo’ tahun 1984 yang lalu, hingga penelitian sejenis yang banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, membuat kita mengelus dada… betapa rusaknya generasi muda sekarang.
Kenapa Terjadi?                                                   
Seperti seloroh orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini, ‘dari mata turun ke hati, dari hati turun ke celana’ sungguh sangat mengenaskan dan benar-benar terjadi. Isyarat mata yang penuh makna mendapat sambutan hangat, saling sapa dan berbincang, berlanjut hingga hati menjadi ‘klik’. Berpisah membuat makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Di benak yang terbayang hanya si dia, lagi-lagi si dia. Pertemuan pun berulang kembali dalam tahap mengungkap rasa, ‘nembak’, begitu istilah gaul kawula muda sekarang. Bahagia rasanya bagi sang dara karena yang ditunggu tibalah saatnya, diapun mengangguk setuju untuk ‘jalan bareng’ dalam suka dan duka. Ada rindu menggebu bila tak bertemu, ada cinta yang bersemayam dalam dada. Bila bersua ada kasih yang terukir dalam diri untuk pujaan hati…
Sudah bisa ditebak, seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya penuh dosa… pegangan bahkan sampai dengan hal yang belum patut untuk dilakukan seperti pengakuan Bunga dan Kembang tadi. Bisa sudah pacaran, istilah gaul jalan bareng, hampa tanpa pegangan, dan maaf… selanjutnya anda pun sudah bisa menebaknya, karena tak pantas kami ungkapkan.
Islam telah mewanti-wanti agar tidak mendekati zina. Norma yang bersifat pencegahan ini lebih efektif dalam menjaga hal-hal yang tidak baik. Menundukkan pandangan, istilah anak ta’lim ghadul bashar adalah permulaan yang sangat bagus. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. an-Nuur : 31)
Memandang pun dilarang, apalagi lebih dari itu. Apakah ada orang yang berpacaran menjaga pandangan? Apakah ada orang yang berpacaran tanpa jalan bareng dan berdua-duaan di tempat yang sepi? Laki-laki mana yang mau pacaran tanpa pegang sana – pegang sini?
Ketahuilah, jika kalian mencintai laki-laki dengan jalan yang salah, maka akhirnya pun akan salah, menyesal. Laki-laki seperti itu sebenarnya tidak serius dalam menjalin kasih denganmu. Jika memang serius, tentu ia akan masuk lewat pintu resmi sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Tak mengenal pacaran apalagi jalan bareng. Kebanyakan mereka mengaku pacaran hanya untuk having fun, maka jangan heran bila meninggalkanmu begitu saja setelah ‘madu’ dihisap dan mencampakkan dirimu begitu saja.

Laki-laki, apalagi pada zaman sekarang, berpikir seribu kali –sekali lagi-, seribu kali untuk memilih pendamping hidup yang tidak perawan dan mana mau menikah dengan wanita yang sudah ‘turun mesin’, istilah gaul anak lelaki sekarang. Sementara sekarang sudah banyak remaja putri kehilangan, minimal harga diri. Kalaupun keperawanan masih utuh, yang lain? Karena itu, jagalah harga dirimu, karena mekarmu hanya sekali…!!!

by: Tiara Putri Andini (FK UMM 2013)

Jumat, 29 November 2013